merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Guru Besar Unmul Ingatkan Ancaman Banjir, Dorong Etika Bisnis Berkelanjutan di Kaltim

img 20251221 wa0022
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman, Prof. Rahmawati (yud/kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman, Prof. Rahmawati, menyoroti bencana banjir yang terjadi di Aceh sebagai peringatan serius bagi Kalimantan Timur (Kaltim).

Menurutnya, kondisi lingkungan di Kaltim memiliki potensi menghadapi risiko serupa apabila pengelolaan sumber daya alam tidak dilakukan secara beretika dan berkelanjutan. Rahmawati menyampaikan, meskipun dirinya berlatar belakang ekonomi, isu lingkungan tidak bisa dilepaskan dari aktivitas bisnis. Dalam perspektif ekonomi dan bisnis modern, terdapat prinsip etika bisnis yang menekankan keseimbangan antara keuntungan dan keberlanjutan. Prinsip tersebut dikenal dengan konsep 3P, yakni planet (lingkungan), people (manusia dan sosial budaya), serta profit (keuntungan).

“Berbisnis tidak boleh hanya mengejar profit. Kita harus memperhatikan bumi sebagai tempat hidup bersama, menjaga hubungan sosial dan budaya masyarakat, baru kemudian berbicara tentang keuntungan,” ujarnya.

Ia mengaitkan konsep tersebut dengan realitas Kalimantan Timur sebagai daerah penghasil sumber daya alam, khususnya dari sektor pertambangan dan kehutanan. Aktivitas ekonomi yang tidak memperhatikan etika lingkungan, menurutnya, dapat memicu kerusakan ekosistem yang pada akhirnya berdampak langsung pada masyarakat dan keberlangsungan usaha itu sendiri.

Prof. Rahmawati menilai bencana banjir di wilayah Sumatera dapat menjadi cerminan bagi daerah lain, termasuk Kaltim. Ia menyebut kondisi ini sebagai sinyal peringatan atau “lampu kuning” yang menuntut respons cepat dari berbagai pihak sebelum berubah menjadi krisis yang lebih besar.

“Kalau potensi itu sudah terlihat, artinya kita harus segera bergerak. Pemerintah, pakar, pelaku usaha, masyarakat, hingga organisasi nonpemerintah perlu bersinergi,” katanya.

Sebagai bagian dari civitas akademika Universitas Mulawarman yang mengusung identitas kampus hutan tropis basah, Prof. Rahmawati mendorong langkah-langkah konkret seperti reboisasi dan pemulihan kawasan yang telah terdampak aktivitas penebangan. Ia juga menekankan pentingnya peran perguruan tinggi melalui keterlibatan dosen, mahasiswa, dan alumni pada program pengabdian masyarakat, termasuk melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Menurutnya, kontribusi akademisi tidak boleh berhenti pada diskusi atau kajian ilmiah semata, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata di lapangan. “Kalau diibaratkan kecelakaan, pertolongan pertama harus sudah siap. Tidak cukup hanya wacana, tapi harus langsung dieksekusi,” tegasnya.

Ia juga mengajak para pelaku usaha dan pemangku kepentingan untuk membuka ruang dialog dengan para ahli lingkungan dan akademisi, lalu menindak lanjutinya dengan implementasi nyata. Langkah-langkah sederhana, seperti perbaikan drainase lingkungan atau pengelolaan kawasan berbasis partisipasi warga, dinilai dapat menjadi upaya awal pencegahan bencana.

Dengan potensi sumber daya alam yang besar, Prof. Rahmawati menegaskan, Kalimantan Timur memiliki peluang sekaligus tanggung jawab besar agar membuktikan, pembangunan ekonomi dapat berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan. Jika tidak segera diantisipasi, ia mengingatkan, risiko yang kini terjadi di daerah lain bisa saja terulang di Kaltim pada masa mendatang. (yud)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *