merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Dishub Dorong Warga Beralih ke Angkutan Umum Lewat Skema Parkir Progresif

img 20260109 wa0018
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Samarinda, Hotmarulitua Manalu. (ns/kaltimvoice)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Pemerintah Kota Samarinda mulai menjalankan skema parkir progresif di kawasan Pasar Pagi sebagai langkah awal menguji pola pengendalian kendaraan pribadi di pusat kota.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Samarinda, Hotmarulitua Manalu, menegaskan bahwa kebijakan ini bukan diarahkan untuk mengejar kenaikan pendapatan daerah, melainkan untuk mendorong perubahan perilaku mobilitas warga.

Penarikan tarif progresif yang berlaku sejak Rabu (7/1/2026) menunjukkan respons cepat masyarakat. Hingga tengah hari, pendapatan retribusi sudah mencapai sekitar Rp600.000. Hotmarulitua memastikan angka tersebut tidak menjadi parameter utama. “Ini belum maksimal, tapi memang bukan itu fokus kita,” ujarnya, Jum’at (9/1/2026).

Ia menjelaskan, kemacetan di Samarinda tidak akan terselesaikan hanya dengan memperlebar ruas jalan. Selama masyarakat masih bergantung pada sepeda motor dan mobil pribadi, kapasitas jalan akan tetap tertekan. “Solusi kemacetan itu hadirnya transportasi publik, bukan menambah kendaraan pribadi,” tegasnya.

Untuk memperjelas urgensi peralihan, Hotmarulitua memberikan gambaran penggunaan ruang jalan. Sebuah bus kecil atau medium yang membawa 40 penumpang hanya memerlukan sekitar 22,5 meter persegi ruang.

Jika jumlah penumpang yang sama menggunakan sepeda motor, ruang jalan yang tersita bisa mencapai 60 meter persegi. Artinya, satu perjalanan bus mampu menghemat sekitar 38,5 meter persegi ruang jalan.

Hitungan tersebut memperlihatkan dampak langsung pengurangan kendaraan pribadi terhadap kelancaran mobilitas kota. Menurutnya, semakin banyak warga yang beralih ke angkutan umum, semakin besar ruang jalan yang bisa dipulihkan untuk arus lalu lintas.

Selain aspek teknis, Dishub menilai pergeseran ke transportasi publik juga akan mereduksi persoalan ketertiban sosial di lapangan, mulai dari praktik parkir liar hingga keberadaan juru parkir ilegal yang memanfaatkan padatnya penggunaan motor. “Kalau orang mulai jarang pakai motor, perilaku parkir sembarangan pasti ikut berkurang. Jukir liar juga begitu,” tuturnya.

Hotmarulitua menambahkan, transportasi umum memiliki manfaat sosial lain yang jarang disorot. Interaksi antarpenumpang menurutnya dapat meningkatkan koneksi sosial antarwarga dan membangun kembali budaya ruang publik yang lebih inklusif. “Di dalam bus, mau tidak mau kita akan berinteraksi dengan orang lain. Itu baik untuk kehidupan sosial,” pungkasnya. (ns)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *