KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Delapan bulan sejak diluncurkan, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kota Samarinda belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Padahal, program nasional yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin.
Program yang menjadi salah satu prioritas nasional ini dirancang agar masyarakat dari berbagai kalangan dapat mengakses layanan kesehatan dasar tanpa biaya. Namun, hingga kini tingkat partisipasi masyarakat Samarinda masih tergolong rendah.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda mencatat, hingga awal Oktober 2025, sekitar 20 ribu warga telah memanfaatkan layanan CKG di Puskesmas. Angka tersebut masih jauh dari ideal, mengingat jumlah penduduk Samarinda telah melampaui 800 ribu jiwa.
Kepala Dinas Kesehatan Samarinda, Ismed Kusasih, menyebutkan bahwa hambatan utama terletak pada tahap sosialisasi. Ia menilai, masyarakat masih perlu diberikan pemahaman yang lebih luas tentang manfaat dan mekanisme program ini agar tingkat partisipasi dapat meningkat.
“Program CKG ini masih tergolong baru sehingga fokus utama kami saat ini adalah memperluas pemahaman masyarakat. Sosialisasi menjadi langkah penting agar pelaksanaannya bisa berjalan efektif,” ujarnya, Kamis (23/10/2025).
Untuk mengatasi kendala tersebut, Dinkes Samarinda menerapkan strategi jemput bola dengan menghadirkan layanan CKG di berbagai kegiatan masyarakat, seperti pameran kesehatan, acara PKK, dan kegiatan publik lainnya.
Upaya ini dilakukan agar layanan dapat menjangkau lebih banyak warga tanpa harus menunggu mereka datang ke Puskesmas. “Kami berusaha lebih proaktif. Setiap ada kegiatan besar, kami membuka layanan CKG di lokasi tersebut supaya lebih banyak warga yang bisa terlayani,” kata Ismed.
Selain menyasar masyarakat umum, Dinkes juga memperluas pelaksanaan program ke lingkungan sekolah. Sejak Agustus hingga September 2025, kegiatan pemeriksaan kesehatan bagi pelajar digencarkan dan menunjukkan kontribusi positif terhadap peningkatan jumlah peserta.
“Kegiatan pemeriksaan di sekolah memberikan dampak cukup besar terhadap peningkatan capaian. Setelah seluruh data terinput, kami perkirakan akan terlihat lonjakan partisipasi yang lebih signifikan,” jelasnya.
Namun, pelaksanaan program sempat terkendala gangguan teknis pada sistem aplikasi nasional “Satu Sehat”. Beberapa hasil pemeriksaan, terutama dari sekolah-sekolah, belum tercatat sepenuhnya karena gangguan tersebut.
“Gangguan dari sistem pusat memang sempat menghambat proses pelaporan. Begitu sistem kembali normal dan seluruh data masuk, capaian kami akan terlihat lebih akurat,” terang Ismed.
Meski masih menghadapi sejumlah kendala, Dinkes Samarinda tetap optimistis partisipasi masyarakat terhadap program CKG akan terus meningkat. Terlebih lagi, bulan ini Samarinda menjadi lokasi supervisi nasional dari Kementerian Kesehatan, yang diharapkan dapat memperkuat sistem pelaksanaan dan pelaporan di lapangan.
“Kami terus berupaya mengoptimalkan pelaksanaan program ini melalui sosialisasi dan pendampingan di lapangan. Dengan dukungan pemerintah pusat, kami yakin partisipasi masyarakat terhadap CKG akan semakin tumbuh,” pungkasnya.(ns)