merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Dari Birokrasi ke Dunia Literasi, Bambang Arwanto Luncurkan Buku Perdana di IKN

whatsapp image 2025 09 12 at 14.24.45 61949b80
Kepala Dinas ESDM Kaltim Bambang Arwanto dan bukunya yang siap diluncurkan di IKN Nusantara. (yud/kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE, SAMARINDA – Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur, Bambang Arwanto, menunjukkan sisi lain dari dirinya yang dikenal sebagai birokrat tulen. Ia juga seorang pegiat literasi yang tekun. Buktinya. Bambang akan meluncurkan buku penelitian sejarah perdananya berjudul “Aji Galeng, Penjaga Negeri Peletak Peradaban” pada Selasa, 16 September 2025, di Auditorium Gedung Otorita IKN, Lantai 2 KIPP 1A, Jalan Titik Nol Nusantara, Ibu Kota Negara (IKN).

Peluncuran buku tersebut rencananya dilakukan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud, dihadiri Kepala Otorita IKN Basuki Hadi Muljono sebagai tuan rumah , serta penyunting buku Susanto Zuhdi.

Dalam keterangannya, Bambang mengungkapkan buku ini lahir dari hasil riset selama tiga tahun. Ia menelusuri jejak sejarah diplomasi yang melibatkan Kesultanan Paser, Kesultanan Kutai, dan Wajo. Menurutnya, wilayah yang kini menjadi kawasan IKN dulunya merupakan tanah hadiah perkawinan antara bangsawan Kesultanan Paser dan Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura.

“IKN ini adalah ruang diplomasi antara Kesultanan Paser dan Kesultanan Kutai. Tanah Telake merupakan hadiah pernikahan Sultan Paser kepada menantunya yaitu Sultan Kutai yang ke-14 Sultan Aji Muhammad Idris yang menikah dengan Aji Doya. Selanjutnya Tanah Balik merupakan hadiah Sultan Pasir kepada menantunya Sultan Salehuddiin Sultan Kutai yang ke- 16 yang menikah dengan Aji Jawiah d imana kelak kemudian hari, Telake dan Balik, yang kini menjadi bagian dari IKN,” jelas Bambang, Jumat (12/9/25).

Ia menambahkan, wilayah tersebut pada masa lampau dikenal kaya akan sumber daya alam, termasuk sarang burung walet yang menjadi incaran Belanda. Untuk menjaga wilayah itu, ditunjuklah tokoh bernama Aji Galeng sebagai panembahan yang ditabalkan oleh Sultan Salehuddin pada tahun 1821.

“Dia kemudian berperang dengan Belanda pada 1825, mengusir mereka yang ingin merampas sarang burung walet di Toyu dan Sepaku ” katanya.

Menurutnya, kisah ini penting diangkat untuk memberikan narasi sejarah IKN. Buku ini berusaha menegaskan, kawasan IKN memiliki akar sejarah diplomasi antarkerajaan di Nusantara yang memiliki kepentingan sama dalam melawan penjajahan. “Sejarah ini butuh kita ketahui. Buku ini hasil riset selama kurang lebih tiga tahun dan akan diluncurkan Gubernur di IKN,” ujarnya. (yud)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *