merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Cuaca Ekstrem Mengintai, BPBD Kaltim Benahi Total Logistik Penanganan Bencana

img 20260107 wa0024

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Memasuki awal 2026, cuaca di Kalimantan Timur semakin mengkhawatirkan. Langit mendung berhari-hari, hujan deras nyaris setiap sore, serta banjir lokal di sejumlah titik membuat masyarakat mulai menaruh perhatian serius pada potensi bencana hidrometeorologi di musim hujan panjang tahun ini.

Kekhawatiran itu dijawab Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur dengan langkah yang lebih taktis. Alih-alih menunggu laporan bencana datang berturut-turut, BPBD Kaltim mulai melakukan penataan ulang seluruh logistik dan peralatan darurat yang tersebar di provinsi hingga kabupaten/kota.

Kepala BPBD Kaltim, Buyung Budi Purnomo, menegaskan bahwa pembaruan data logistik adalah kunci agar penanganan bencana tidak gagap saat kondisi darurat terjadi. “Kita pastikan semua perlengkapan darurat terdata lengkap dan siap dipakai. Jangan sampai nanti ada kejadian, tapi alatnya tidak siap,” ujarnya, Rabu (7/1/2026).

Pendataan ulang tersebut mencakup perahu karet, tenda pengungsian, hingga berbagai sarana pendukung evakuasi. Inventaris tidak hanya dicek jumlahnya, tetapi juga kondisi fisik masing-masing peralatan untuk memastikan tidak ada yang rusak ketika dibutuhkan.

Langkah ini menjadi penting mengingat peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menempatkan Kaltim dalam kawasan risiko hidrometeorologi kategori sedang hingga tinggi hingga akhir Maret 2026. Curah hujan di Januari saja tercatat masih di kisaran 20–50 milimeter per hari.

Dari hasil monitoring, wilayah yang berpotensi paling terdampak berada di Kabupaten Berau dan Kutai Timur akibat dinamika cuaca regional, termasuk pengaruh angin dari kawasan Pasifik. Buyung mencatat, banjir yang sempat terjadi di Kecamatan Wahau menjadi alarm penting. “Banjir kemarin itu murni karena luapan sungai. Ini terus kami pantau,” jelasnya.

Meski begitu, BPBD belum mencatat laporan tanah longsor, mengingat karakter lapisan tanah dan topografi Kaltim berbeda dengan wilayah pegunungan seperti Sumatra yang lebih rawan.

Meski belum ada penetapan status siaga darurat, BPBD Kaltim sudah mengaktifkan jalur koordinasi dengan BNPB, BPBD kabupaten/kota, serta Dinas Sosial yang bertugas mengamankan ketersediaan logistik pangan bagi pengungsian jika dibutuhkan.

Menurut Buyung, kesiapsiagaan tidak hanya soal alat, tetapi juga kesiapan tim di lapangan.“Personel gabungan dari BPBD, Tagana, Dinsos sampai tenaga kesehatan sudah disiapkan. Kalau nanti ada eskalasi, semuanya bisa langsung bergerak,” tutupnya. (ns)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *