merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Belum Ada Kasus Hantavirus di Kaltim, Dinkes Terbitkan Peringatan Dini untuk Warga

img 20260514 wa0007
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Jaya Mualimin, saat menjelaskan langkah kewaspadaan dini terhadap potensi penyebaran Hantavirus di Kaltim. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran Hantavirus. Meski hingga kini belum ditemukan kasus di Kaltim, surat peringatan dini telah diterbitkan dan dikirim ke seluruh kabupaten/kota menyusul arahan dari Kementerian Kesehatan RI.

Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, mengatakan langkah antisipasi perlu dilakukan lebih awal mengingat virus tersebut berkaitan dengan hewan pengerat seperti tikus dan curut yang cukup banyak ditemukan di lingkungan permukiman masyarakat.

“Di Kaltim belum ada, dan sesuai arahan Pak Menteri Kesehatan hari ini saya membuat surat edaran untuk seluruh kabupaten kota agar waspada terkait Hantavirus,” ujarnya saat ditemui, Rabu (13/5/2026).

Menurutnya, kondisi lingkungan pascabanjir menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai. Aktivitas tikus yang meningkat saat banjir berpotensi meninggalkan kotoran maupun urine yang dapat menjadi media penularan penyakit apabila tersentuh tanpa disadari.

“Kalau banjir biasanya tikus banyak. Kita tidak tahu apakah terkena urine tikus atau tidak, makanya penting menjaga kebersihan dan cuci tangan pakai sabun,” katanya.

Jaya mengimbau masyarakat rutin membersihkan lingkungan rumah agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya hewan pengerat. Ia menekankan langkah sederhana seperti menjaga sanitasi dan kebersihan rumah menjadi upaya penting dalam mencegah potensi penularan.

Selain itu, ia menyebut gejala awal Hantavirus cukup mirip dengan sejumlah penyakit lain yang umum ditemukan di Indonesia, seperti demam berdarah, tifus hingga demam kuning. Kondisi tersebut membuat masyarakat diminta lebih peka terhadap gejala demam yang muncul.

“Awalnya demam, badan terasa tidak enak, tenggorokan sakit. Gejalanya hampir mirip dengan tifoid maupun DBD,” jelasnya.

Meski belum ada laporan kasus di Kaltim, Dinkes memastikan pengawasan terus dilakukan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR). Pemantauan tersebut rutin dilaporkan setiap pekan ke Kementerian Kesehatan sebagai bagian dari deteksi dini penyakit menular.

“Setiap minggu kami laporkan dan evaluasi apakah ada indikasi penyakit tertentu sehingga bisa segera dilakukan langkah penanganan.” pungkasnya. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *