KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Pelaksanaan ibadah kurban bukan hanya soal menyembelih hewan dan membagikan daging kepada masyarakat. Di balik proses tersebut, terdapat aspek kesejahteraan hewan hingga higienitas pangan yang wajib diperhatikan panitia maupun masyarakat.
Hal itu disampaikan Ketua Tim Higiene dan Penerapan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kalimantan Timur, Yulis Tanty. Ia menjelaskan, dalam pelaksanaan kurban terdapat tiga aspek utama yang harus dipenuhi.
“Dalam berkurban wajib memperhatikan tiga aspek utama, yakni ihsan, halal, dan toyib,” ujarnya saat ditemui belum lama ini.
Aspek ihsan berkaitan dengan bagaimana hewan kurban diperlakukan secara baik sejak awal hingga proses penyembelihan berlangsung. Hal itu mencakup pemilihan alat pengikat, penanganan hewan hingga suasana di lokasi pemotongan.
Ia menjelaskan, panitia kurban perlu memperhatikan jenis tali yang digunakan untuk mengikat hewan. Tali yang kasar atau berbahan plastik dinilai berpotensi melukai ternak dan memicu stres pada hewan.
“Yang direkomendasikan itu tali rami, bukan tali plastik. Jadi hewan tidak tersakiti dan tetap nyaman,” jelasnya.
Tak hanya itu, hal-hal yang selama ini kerap dianggap sepele juga ikut menjadi perhatian, seperti warna pakaian panitia penyembelihan. Warna yang terlalu mencolok disebut dapat memengaruhi kondisi psikologis hewan sebelum disembelih.
Karena itu, panitia dianjurkan menggunakan warna-warna lembut seperti hitam, krem atau putih dibanding warna terang seperti merah, biru terang maupun hijau menyala. “Pilih warna yang soft supaya ternak tidak stres saat proses pemotongan berlangsung,” katanya.
Selain ihsan, aspek halal juga menjadi perhatian utama. Proses penyembelihan harus sesuai syariat Islam, termasuk memastikan tiga urat utama pada leher hewan kurban terputus saat penyembelihan dilakukan.
Sementara aspek toyib berkaitan dengan penanganan daging kurban agar tetap higienis dan aman dikonsumsi masyarakat. Menurutnya, kualitas daging tidak hanya ditentukan saat hewan disembelih, tetapi juga dari proses penanganan setelahnya.
DPKH Kaltim mengingatkan panitia kurban untuk menjaga kebersihan alat, tempat pemotongan hingga distribusi daging kepada masyarakat. Hal itu penting agar daging yang diterima masyarakat memenuhi prinsip ASUH, yakni aman, sehat, utuh dan halal.
“Tujuannya supaya daging yang dibagikan benar-benar layak konsumsi dan higienis, baik bagi sohibul kurban maupun masyarakat penerima.” pungkasnya. (mell)