merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Cuaca Ekstrem Ancam Kesehatan Mata, Dinkes Samarinda Ingatkan Bahaya Fotokeratitis

whatsapp image 2025 10 27 at 13.01.01 581a9595
Paparan sinar matahari berlebihan dapat menyebabkan iritasi dan peradangan pada kornea mata. (istimewa)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Cuaca panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia belakangan ini tak hanya berdampak pada dehidrasi dan kelelahan tubuh, tetapi juga berisiko terhadap kesehatan mata. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap penyakit fotokeratitis atau peradangan kornea akibat paparan sinar ultraviolet (UV) berlebihan.

Kepala Dinkes Samarinda, Ismed Kusasih, menjelaskan bahwa kondisi ini dapat muncul akibat paparan langsung sinar matahari maupun pantulan cahaya dari permukaan seperti air, es, atau logam. Dalam dunia medis, fotokeratitis dikenal pula dengan istilah sunburn eyes atau snow blindness.

“Fotokeratitis itu istilah medisnya peradangan pada kornea akibat paparan sinar ultraviolet (UV) berlebihan, sering disebut juga sebagai mata terbakar matahari atau kebutaan salju,” jelas Ismed, Senin (27/10/2025).

Gejala yang ditimbulkan, kata Ismed, biasanya berupa rasa nyeri di mata, mata merah, penglihatan kabur, hingga sensasi seperti ada pasir atau benda asing di dalam mata. Dalam kasus yang berat, penderita bahkan bisa mengalami gangguan penglihatan sementara.

Ia menambahkan, tubuh manusia sejatinya hanya mampu beradaptasi pada suhu sekitar 37 derajat Celsius.Ketika suhu lingkungan meningkat jauh di atas batas tersebut, organ vital termasuk mata rentan mengalami gangguan. “Tubuh manusia ini beradaptasi di suhu 37 derajat. Makanya kalau cuaca ekstrem di atas 37 itu bisa berakibat ke tubuh, termasuk organ mata,” ujarnya.

Sebagai langkah pencegahan, Ismed menekankan pentingnya alat pelindung diri (APD) saat beraktivitas di luar ruangan, terutama di bawah sinar matahari terik. Penggunaan kacamata hitam dengan pelindung UV, topi lebar, dan pakaian yang longgar menjadi cara sederhana namun efektif.

“Kalau sudah ada tanda-tanda cuaca ekstrem, ya sebaiknya kita melengkapi diri dengan APD. Di mana pun juga APD itu penting untuk melindungi tubuh dari faktor ekstrem,” ucapnya.

Selain melindungi mata, menjaga hidrasi tubuh juga perlu diperhatikan agar terhindar dari efek panas berlebih. “Pastinya kita harus menghindari paparan langsung. Kalau mata, ya pakai kacamata tahan panas. Kemudian tubuh jangan sampai dehidrasi, makanya banyak minum,” tuturnya.

Ismed mencontohkan kondisi cuaca di Tanah Suci saat musim haji yang bisa mencapai 45–47 derajat Celsius, di mana jamaah dianjurkan memakai pakaian yang tidak menyerap panas dan mengonsumsi makanan bergizi untuk menjaga imunitas. “Pakaian yang longgar dan tidak menyerap panas itu penting. Selain itu, makanan dan vitamin juga diperlukan untuk memperkuat imunitas,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa sinar ultraviolet merupakan penyebab utama fotokeratitis. Namun, terkait kasus pelatih Borneo FC yang dikabarkan menjalani operasi mata karena paparan matahari, Ismed menyerahkan penjelasan detailnya kepada dokter spesialis yang menangani. “Yang jelas, istilah dalam ilmu kedokteran itu fotokeratitis atau mata terbakar matahari. Paparan jangka panjangnya bisa meningkatkan risiko penyakit yang lebih serius,” pungkasnya. (ns)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *