merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Selama Bulan Puasa, MBG Dalam Bentuk Paket Kering untuk Menu Berbuka

img 20260216 wa0018
Siswa sekolah dasar di Samarinda menikmati menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di ruang kelas. Selama Ramadan, pembagian dilakukan dalam bentuk paket kering yang dibawa pulang agar bisa disantap saat berbuka. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Memasuki bulan Ramadan nanti, para siswa di Samarinda tetap menerima asupan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Perbedaannya, makanan tidak lagi disantap di sekolah, melainkan dibawa pulang untuk dinikmati saat berbuka.

Penyesuaian ini dilakukan agar program tetap berjalan tanpa mengganggu ibadah puasa. Menu dikemas dalam bentuk paket tahan lama yang praktis dibawa pulang, dengan nilai gizi tetap terjaga.

Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Samarinda, Hariyono, mengatakan perubahan tersebut semata untuk memastikan hak siswa atas asupan gizi tetap terpenuhi. “Yang puasa tetap diberikan, hanya bentuknya paket kering atau makanan tahan lama, bukan makanan siap santap,” ujarnya, Senin (16/2/2026).

Paket yang dibagikan tetap disusun sesuai standar kebutuhan gizi harian siswa. Pendamping Kepala Regional BGN Kaltim, Sirajul Amin, mengatakan menu dipilih secara selektif agar aman disimpan hingga waktu berbuka tanpa mengurangi nilai gizinya.

Isi paket antara lain kurma, biskuit, telur, susu, dan buah. Seluruhnya dipilih dengan pertimbangan daya tahan serta kandungan nutrisi. “Kami menyesuaikan menu agar tidak berisiko basi sebelum dikonsumsi, tetapi nilai gizinya tetap terpenuhi,” jelasnya.

Distribusi dilakukan menjelang jam pulang sekolah. Dengan skema ini, siswa tidak perlu menyimpan makanan terlalu lama di kelas, dan dapat langsung membawanya ke rumah. Meskipun ada perubahan pola distribusi, MBG tetap mengikuti kalender sekolah, termasuk jadwal libur nasional dan cuti bersama Ramadan. Pemerintah juga menyiapkan evaluasi awal untuk melihat apakah skema baru ini efektif.

“Evaluasi akan dilakukan setelah satu minggu melalui kuesioner kepada sebagian siswa untuk melihat efektivitas program,” tutup Sirajul. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *