merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Samarinda Kekurangan 700 Guru, DPRD Soroti Dampak Moratorium Honorer dan Perubahan Kurikulum

img 20260403 wa0004
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Kekurangan tenaga pengajar di Kota Samarinda masih menjadi persoalan serius. Hingga saat ini, kebutuhan guru di tingkat SD hingga SMP masih sekitar 700 orang.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti mengatakan, persoalan kekurangan guru bukan hanya terjadi pada tenaga honorer, tetapi juga menyangkut distribusi guru penuh waktu yang dinilai masih belum merata. “Masih banyak laporan dari guru yang penuh waktu pun masih bermasalah,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi ini menjadi semakin kompleks karena pemerintah masih menerapkan moratorium tenaga honorer. Padahal kebutuhan guru terus bertambah setiap tahun seiring adanya pensiun, mutasi, hingga guru yang meninggal dunia.

“Katanya kekurangan 700 guru, sementara kita moratorium guru honorer. Ini kan jadi masalah lagi,” katanya.

Ia menjelaskan, rata-rata setiap tahun terdapat sekitar 100 hingga 200 guru yang pensiun atau tidak lagi aktif mengajar. Sementara kebutuhan pengganti belum sepenuhnya terpenuhi secara optimal.

Kondisi tersebut membuat pemenuhan tenaga pengajar di tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan pemerintah daerah.

Selain persoalan jumlah tenaga pengajar, Komisi IV DPRD Samarinda juga menyoroti dampak perubahan kebijakan kurikulum dari pemerintah pusat yang berpotensi menambah kebutuhan guru baru, khususnya di tingkat sekolah dasar. “Sekarang nanti tahun 2027 sampai 2028 bahasa Inggris wajib menjadi mata pelajaran di SD. Jadi nanti kita masih kekurangan lagi,” ujarnya.

Diperkirakan kebutuhan guru bahasa Inggris untuk tingkat sekolah dasar ke depan bisa mencapai lebih dari 200 orang. Hal ini tentu menjadi tantangan tambahan bagi pemerintah daerah dalam menyiapkan tenaga pendidik yang memadai.

Oleh karena itu, DPRD Samarinda menilai diperlukan langkah strategis dan terukur agar persoalan kekurangan guru tidak terus berulang setiap tahun, terutama di tengah perubahan kebijakan pendidikan yang terus berkembang.

“Kita masih akan kekurangan lagi sekitar 200-an guru bahasa Inggris di SD, jadi memang kebutuhan guru ini masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera disiapkan.” tandas Sri Puji. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *