KALTIM VOICE, SAMARINDA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur tengah menyiapkan fondasi baru bagi kebangkitan sektor pariwisata daerah melalui pengembangan desa wisata. Program yang digarap Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim ini akan mulai berjalan pada 2026, dan menjadi salah satu implementasi nyata kebijakan Jospol, yang menekankan penguatan ekonomi lokal dan pemberdayaan masyarakat.
Kepala Dispar Kaltim, Ririn Sari Dewi, mengatakan bahwa pembangunan desa wisata dirancang tidak tergesa-gesa, melainkan melalui tahapan pembinaan yang sistematis. Setiap tahun akan ada sedikitnya lima desa yang digarap sebagai desa wisata unggulan.
“Program ini kita mulai pada 2026 dan dilakukan bertahap. Setiap tahun akan ada minimal lima desa yang dibina menjadi desa wisata unggulan,” ujarnya, Selasa (09/12/2025).
Detail rencana tersebut tertuang dalam dokumen resmi Dispar Kaltim nomor 500.13.2.4/562/DISPAR-IV/2025, yang memuat daftar sepuluh desa dan kampung wisata calon kawasan binaan:
- Kota Samarinda – Kampung Tenun
- Kota Balikpapan – Kampung Wisata Kang Bejo
- Kota Bontang – Desa Wisata Bontang Baru Bersinar
- Kabupaten Paser – Desa Wisata Klempang Sari
- Kabupaten Penajam Paser Utara – Kampung Wisata Nipah-Nipah
- Kabupaten Kutai Kartanegara – Desa Wisata Kersik
- Kabupaten Kutai Timur – Desa Wisata Kaliorang
- Kabupaten Kutai Barat – Kampung Wisata Linggang Melapeh
- Kabupaten Mahakam Ulu – Kampung Wisata Batu Majang
- Kabupaten Berau – Desa Wisata Tanjung Batu
Dari daftar tersebut, dua daerah mendapat perhatian khusus pada tahun pertama pelaksanaan program.
“Samarinda dan Bontang menjadi prioritas awal. Potensi mereka sudah terbentuk. Tinggal diperkuat melalui pendampingan, promosi, serta kolaborasi dengan dunia usaha,” jelas Ririn.
Program desa wisata bukan sekadar proyek pariwisata. Ia dikemas sebagai strategi pembangunan yang menghidupkan kembali kekuatan ekonomi desa. Semangat Jospol—yang mengarahkan pembangunan berbasis potensi lokal, kemandirian, dan keberlanjutan—menjadi roh dari seluruh konsep ini.
Dengan pendekatan ini, desa tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga ruang tumbuhnya ekonomi baru: usaha kuliner, kerajinan tangan, homestay, hingga layanan wisata berbasis masyarakat.
Pemprov Kaltim optimistis bahwa desa wisata dapat menjadi motor penggerak ekonomi daerah sekaligus membuka ruang kerja bagi masyarakat. Dengan pendampingan yang tepat, desa-desa ini diharapkan tumbuh menjadi destinasi berdaya saing dan memberikan manfaat langsung bagi warga setempat.
Melalui langkah bertahap ini, Kaltim ingin memastikan pembangunan pariwisata berjalan tidak hanya indah di atas kertas, tetapi benar-benar menyentuh masyarakat dan mengubah desa menjadi pusat pertumbuhan baru. (adv/diskominfokaltim/yud)