KALTIMVOICE.ID, TENGGARONG – Persiapan Erau Adat Kutai 2026 memasuki H-5 dengan progres fisik mencapai sekitar 90 persen. Tahun ini, festival budaya kebanggaan Kutai Kartanegara resmi masuk Karisma Event Nusantara (KEN) sehingga seluruh penyelenggaraan harus memenuhi standar nasional yang ditetapkan Kementerian Pariwisata.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara, Heriansyah, usai rapat besar persiapan Erau di Tenggarong, Selasa (15/9/2026).
“Erau tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya karena sudah masuk Karisma Event Nusantara. Ada standar pelaksanaan dan target tertentu yang harus dipenuhi,” ujarnya.
Menurut Heriansyah, standar tersebut meliputi pengelolaan sampah agar kawasan festival tetap bersih, penyusunan mitigasi risiko apabila terjadi bencana, peningkatan dampak ekonomi bagi pelaku UMKM, hingga penyediaan informasi dalam dua bahasa, yakni Indonesia dan Inggris.
Ia menambahkan, rangkaian pra-Erau juga telah berjalan dengan sejumlah prosesi sakral, di antaranya ziarah ke makam para raja dan sultan di kompleks Museum Mulawarman serta Kutai Lama, hingga prosesi Besawai yang digelar pada hari yang sama.
Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Aji Muhammad Arifin, menjelaskan dirinya akan mengikuti seluruh prosesi sakral Erau. Salah satu tradisi yang masih dipertahankan ialah larangan Sultan menginjak tanah sejak pendirian Tiang Ayu hingga prosesi penutupannya.
“Dari mulai mendirikan Tiang Ayu sampai Tiang Ayu dirobohkan, baru kita bisa menginjak tanah. Kalau menuju istana, kita melewati kain kuning,” jelas Sultan.
Menurutnya, tradisi tersebut merupakan warisan leluhur yang terus dijaga sebagai bagian dari identitas adat Kesultanan Kutai.
Lebih lanjut Heriansyah mengungkapkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sejauh ini baru memberikan dukungan dalam bentuk promosi, sementara bantuan pembiayaan penyelenggaraan belum tersedia.
Ia juga menyebut rencana penyediaan transportasi gratis dari Samarinda dan Balikpapan bagi masyarakat yang ingin menyaksikan Erau masih menunggu kepastian dari Dinas Pariwisata Kaltim.
“Harapan kami Erau bukan hanya milik Kutai Kartanegara, tetapi milik Kalimantan Timur bahkan Indonesia. Ini adalah identitas budaya kita bersama,” katanya.
Pelaksanaan Erau 2026 tetap bertumpu pada hibah Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, sedangkan dukungan dari kementerian diberikan dalam bentuk asas manfaat, seperti penyediaan panggung, sistem suara, serta kebutuhan produksi dan promosi acara.