KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Setelah sempat bergerak naik pada pekan sebelumnya, harga cabai di Pasar Segiri Samarinda mulai menunjukkan penurunan tipis. Meski demikian, kondisi tersebut belum sepenuhnya membuat pedagang bernapas lega karena fluktuasi harga masih sangat dipengaruhi oleh stok dan kualitas pasokan dari daerah penghasil.
Pantauan di lapangan menunjukkan, penurunan harga yang terjadi masih dalam skala kecil dan belum berdampak signifikan terhadap harga jual di tingkat eceran. Situasi ini membuat pedagang tetap bersikap hati-hati, terlebih menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.
Salah seorang pedagang cabai di Pasar Segiri, Lia (40), mengakui adanya pergerakan turun pada harga cabai, namun nilainya belum cukup besar untuk mengubah pola penjualan. “Memang ada turun, tapi turunnya dikit aja,” ujarnya saat ditemui, Sabtu (20/12/2025).
Menurut Lia, penurunan harga cabai hanya berkisar sekitar Rp3.000 per kilogram. Sementara itu, harga di lapak tetap bervariasi, bergantung pada jenis cabai dan kualitas barang yang diterima dari pemasok. “Paling sekitar tiga ribuan saja,” katanya.
Ia menjelaskan, perbedaan harga juga dipengaruhi oleh sistem penjualan. Harga cabai untuk pembelian grosir cenderung lebih murah dibandingkan eceran karena pedagang harus memperhitungkan berbagai biaya tambahan.“Kalau eceran tentu beda, karena ada ongkos angkat, ongkos sortir, sama susut barang,” jelasnya.
Untuk penjualan eceran, harga cabai di Pasar Segiri saat ini berada di kisaran Rp60.000 hingga Rp70.000 per kilogram. Rentang tersebut ditentukan oleh jenis cabai, seperti cabai rawit atau cabai besar, serta kondisi fisik barang. “Kalau yang biasa itu sekitar Rp65.000, tapi ada juga yang Rp60.000, tergantung jenisnya,” ungkap Lia.
Ia menilai naik turunnya harga cabai sulit diprediksi. Faktor cuaca, kualitas hasil panen, dan ketersediaan stok dari daerah penghasil menjadi penentu utama pergerakan harga di pasar. “Mungkin karena cuaca juga, kualitas barang jadi beda-beda, stok yang bagus juga enggak selalu banyak,” ujarnya.
Menjelang Natal dan Tahun Baru, Lia belum bisa memastikan apakah harga cabai akan kembali naik. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, momen hari besar tidak selalu diikuti lonjakan harga, namun tetap bergantung pada kondisi pasokan. “Kalau stok aman dan kualitas bagus, biasanya stabil. Tapi kalau barangnya kurang, ya bisa naik lagi,” katanya.
Sebagian besar pasokan cabai yang dijual di Pasar Segiri berasal dari Sulawesi, dengan daerah pengiriman seperti Palu dan wilayah lainnya. Perbedaan daerah asal ini turut memengaruhi kualitas dan daya tahan cabai yang diterima pedagang.
Perubahan harga cabai juga berdampak langsung pada pola belanja masyarakat. Saat harga berada di level tinggi, pembeli cenderung mengurangi jumlah belanja. “Yang biasanya beli satu kilo, sekarang jadi seperempat atau setengah kilo saja,” ujar Lia.
Meski demikian, ia menilai ramainya pembeli tidak selalu berkaitan langsung dengan harga cabai, melainkan juga dipengaruhi oleh daya beli masyarakat secara umum. Menjelang akhir tahun, Lia berharap harga cabai bisa lebih stabil agar aktivitas jual beli di pasar berjalan normal dan tidak memberatkan konsumen. “Harapannya stabil saja, harganya enggak naik turun, pembeli juga jadi ramai,” pungkasnya. (ns)