merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Desa Wisata Jadi Arah Baru Strategi Pengembangan Pariwisata Kaltim

img 20251207 wa0009
Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Ririn Sari Dewi saat menyampaikan materi di kapal pesut harmoni (yud/kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memanfaatkan momen wisata susur Sungai Mahakam untuk mempertegas arah baru pengembangan desa wisata sebagai penggerak ekonomi pariwisata. Melalui forum Bincang-Bincang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang digelar di atas Kapal Pesut Harmony, Minggu (7/12/2025).

Pemprov menegaskan pentingnya desa wisata sebagai episentrum pembangunan pariwisata berkelanjutan. Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Ririn Sari Dewi, menyebut penguatan desa wisata kini telah memiliki landasan regulasi kuat melalui Pergub 35/2025. Aturan tersebut merinci peta jalan pengelolaan, pembiayaan, dan kolaborasi lintas pihak agar meningkatkan kapasitas desa pada mengelola potensi wisata secara mandiri.

“Pengembangan desa wisata bukan hanya tentang aktivitas wisata. Intinya adalah pemberdayaan masyarakat desa melalui model ekonomi yang inklusif,” ujarnya.

Kaltim saat ini memiliki 105 desa wisata rintisan, sebagian telah naik menjadi desa berkembang dan maju. Contohnya Desa Pela yang dikenal dengan atraksi Pesut Mahakam, serta Malahing di Bontang dengan karakter pesisirnya. Pemprov juga bekerja sama dengan BUMDes, BUMD, BUMN dan perbankan untuk membuka dukungan pembiayaan.

Ririn menekankan, tantangan desa bervariasi, mulai dari infrastruktur, SDM, hingga digitalisasi. Karena itu, pola dukungan harus disesuaikan kebutuhan masing-masing desa. Ia juga menyebut minat generasi muda terhadap wisata berkelanjutan menjadi peluang besar agar memperkuat promosi digital desa wisata.

“Anak muda punya kemampuan digital yang kuat. Narasi dan visual yang mereka buat menjadi pintu promosi desa wisata di ruang publik,” tuturnya.

Kegiatan susur sungai ini juga memperlihatkan meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata sungai, sekaligus membuka ruang diskusi terkait inovasi desa wisata dan penguatan Pokdarwis, yang kini mencapai 175 kelompok aktif.

Menurunya, desa wisata terbukti menjadi penopang ekonomi daerah saat pandemi, karena berbasis komunitas dan tetap bergerak ketika sektor lain terhenti. “Desa wisata harus tumbuh dari budaya dan lingkungan, bukan sekadar event sesaat,” tegasnya. (yud)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *