KALTIMVOICE.ID, PENAJAM – Dinas Pertanian Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memacu percepatan penerapan Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM AAS) di wilayahnya. Program inovasi pertanian modern ini diproyeksikan mampu menjangkau area seluas 3.546 hektare hingga akhir Desember 2026. Kendati demikian, langkah awal pelaksanaan program tersebut baru direalisasikan melalui pembuatan percontohan atau demplot seluas 6 hektare. Dari total lahan demplot itu, area seluas 1 hektare di antaranya telah ditanam secara simbolis oleh Bupati PPU Mudyat Noor.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian PPU, Gunawan, memberikan klarifikasi terkait capaian angka tersebut. Ia menekankan bahwa luas 3.546 hektare merupakan sasaran akhir yang hendak dicapai, bukan jumlah area yang telah selesai digarap saat ini.
“Karena Kabupaten Penajam Paser Utara dalam kondisi darurat hidrometeorologi, kami baru membuat demplot dengan luasan 6 hektare. Kemudian yang ditanam secara simbolis oleh Pak Bupati itu yang 1 hektare,” kata Gunawan.
Guna mengejar target akhir tahun tersebut, pelaksanaan PM AAS harus terus diperluas secara bertahap. Sebelum menuju target utama di bulan Desember, Dinas Pertanian PPU telah menetapkan target antara untuk bulan Oktober sebesar 893 hektare.
Gunawan mengungkapkan bahwa ritme pengerjaan di lapangan sangat bergantung pada dinamika alam, khususnya presipitasi dan pasokan air. Wilayah persawahan di PPU mayoritas masih bergantung pada curah hujan, mengingat area irigasi teknis yang dapat dialiri air secara langsung baru mencakup sekitar 352 hektare.
“Kalau memang tidak bisa kita kejar, saya yakin asal ada hujan November dan Desember itu pasti tercapai. Kita berdoa bersama-sama karena kondisi alam yang menentukan,” ujarnya.
Ia juga meluruskan persepsi mengenai penanganan dampaknya di lapangan. Area tanaman padi seluas kurang lebih 29 hektare di Bangun Mulya yang kini ditopang oleh bantuan pompa air merupakan pertanaman lama yang tengah mengalami krisis air. Luasan area persawahan tersebut tidak dimasukkan ke dalam skema hitungan capaian PM AAS.
Program PM AAS di Penajam Paser Utara memiliki peran strategis dalam peta pertanian daerah maupun nasional. Di tingkat Provinsi Kalimantan Timur, PPU mengemban mandat target 3.546 hektare dari total sasaran provinsi sebesar 7.125 hektare. Sementara dalam skala nasional, gerakan modernisasi ini menjadi bagian dari agenda besar penerapan teknologi pertanian pada sekitar 1 juta hektare lahan.
Saat ini, penyaluran sarana pendukung PM AAS masih dalam tahap penyelesaian prosedur teknis, terutama terkait ketersediaan benih. Paket bantuan komprehensif tersebut mencakup sarana produksi seperti pupuk urea, NPK, dolomit, pupuk organik, hingga silika. Alokasi kebutuhan benih untuk PM AAS disetting sebesar 70 kilogram per hektare. Angka ini secara signifikan lebih tinggi dibanding kebiasaan petani lokal yang lazimnya hanya memakai 25 hingga 40 kilogram per hektare.
Lonjakan kuantitas benih ini dirancang demi melipatgandakan populasi tanaman, dari semula 400 ribu hingga 500 ribu rumpun menjadi 800 ribu hingga 1 juta rumpun per hektare.
Selain pemenuhan logistik, edukasi intensif terus digencarkan melalui penyuluh pertanian dan petugas teknis.
Pendampingan difokuskan pada penyeragaman pola pengolahan tanah. Sebagian petani PPU biasa membajak sawah saat kondisi tanah kering, sedangkan kelompok lainnya memilih menunggu hingga sawah tergenang air. Dinas Pertanian mengimbau percepatan pengolahan tanah lebih awal agar persawahan langsung siap ditanami begitu pasokan air melimpah.
Transformasi PM AAS turut ditopang oleh pembaharuan teknologi mekanisasi pertanian. Sederet alat dan mesin pertanian modern disyiapkan untuk mempercepat pekerjaan, mulai dari traktor roda empat, combine harvester, drone, rotavator, pompa air, hingga transplanter.
Kombinasi modernisasi sarana produksi dan alih teknologi diharapkan mampu mengakselerasi pencapaian target lahan hingga penghujung tahun.
“Harapan kita pola itu bisa segera berubah dan apa yang menjadi cita-cita kita dalam mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan bisa terwujud,” katanya.
(Adv10/diskominfoppu/udin.zacrez)