KALTIMVOICE.ID SAMARINDA – Sore itu Masjid Fathul Khair terasa tenang, cahaya matahari yang mulai meredup memantul lembut pada lantai yang baru saja dibersihkan. Di sudut masjid, Junaidi duduk perlahan sambil menyandarkan tubuhnya.
Meski tampak letih, marbut berusia sekitar 40 tahun itu tetap menyambut dengan senyum tulus yang seperti sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Ia memperbaiki kopiah putih di kepalanya dan mulai bercerita. Setiap kata yang keluar darinya memperlihatkan bahwa perjalanan hidup Junaidi bukan sekadar pekerjaan menjaga kebersihan masjid, melainkan kisah keteguhan seseorang yang setia mengabdi tanpa sorotan.
Junaidi lahir dan besar di Banjarmasin, ia pernah menjalani berbagai pekerjaan serabutan sebelum akhirnya memutuskan merantau ke Samarinda bersama istrinya 13 tahun lalu. Kota ini menjadi titik balik hidupnya, karena di sinilah ia mulai bekerja sebagai marbut. Profesi yang kerap dipandang sederhana. Namun, justru menjadi denyut jantung aktivitas sebuah masjid.
“Ketika pertama kali bekerja di sini, niat saya hanya mencari kehidupan yang lebih baik. Tetapi rupanya Allah memberikan jalan yang lebih besar dari itu,” tuturnya.
Ia kini menetap di Samarinda bersama istri dan anaknya, kakaknya yang menjadi imam di Masjid Al-Husna tinggal tidak jauh dari tempatnya. Dukungan keluarga itulah yang membuatnya istiqamah menjalani profesi ini hingga hari ini. “Tanpa pertolongan Allah, pekerjaan ini tentu berat. Namun, jika dijalani dengan niat yang benar, hati menjadi tenang,” ujarnya pelan.
Ingatan Junaidi beralih pada 21 April 2025, hari peluncuran Program Gratispol salah satu bagian dari kebijakan besar Jospol Pemprov Kaltim. Ia datang hanya sebagai jamaah yang ingin menyaksikan acara.
Tidak pernah sedikit pun terlintas di benaknya bahwa namanya akan dipanggil sebagai penerima Umrah Gratis. Saat mendengar namanya disebut, Junaidi hanya terdiam beberapa saat. “Saya sungguh tidak menyangka. Rasanya seperti hilang fokus, tetapi hati saya sangat bahagia,” katanya dengan bahasa lebih baku.
Program umrah bagi marbut dan penjaga rumah ibadah itu menjadi pengakuan sekaligus penghargaan yang tidak pernah ia bayangkan. Setelah bertahun-tahun bekerja dalam sunyi, ia akhirnya merasakan perhatian dari pemerintah melalui program prioritas tersebut.
Oktober 2025 menjadi bulan yang tak akan ia lupakan, saat pesawat bersiap lepas landas, Junaidi merasakan ketegangan luar biasa yang tidak dapat ia sembunyikan. “Ketika pesawat mulai bergerak naik, tangan saya terasa dingin semua. Maklum, itu pengalaman pertama bagi saya,” ujarnya sambil tersenyum malu. Namun, kegugupan itu hilang seketika ketika ia menginjak Tanah Suci.
Ia terdiam jauh lebih lama dari sebelumnya, seolah tak percaya bahwa kakinya benar-benar berada di tempat yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan. “Rasanya luar biasa. Saya dapat salat langsung menghadap Kabah, bukan lagi ke dinding masjid,” ungkapnya dengan suara yang mulai bergetar.
Selama tiga belas tahun, Junaidi membersihkan karpet, menata tempat wudu, membuka pintu masjid setiap pagi, dan memastikan rumah Allah tetap terawat. Ia tidak pernah merasa istimewa dalam menjalani tugas itu. Justru, ia merasa menjadi orang yang paling beruntung. “Kalau yang kita cari adalah keberkahan, sisanya Allah yang atur,” ucapnya.
Kini, setelah kembali ke Indonesia, ia menyimpan satu harapan kecil yang ia bisikkan dengan senyum malu-malu. “Jika Allah mengizinkan, tentu saya ingin kembali lagi. Siapa yang tidak ingin?” ujar Junaidi.
Namun, ia menegaskan bahwa banyak marbut lain yang juga layak mendapatkan kesempatan serupa.Ia berharap program di bawah kebijakan Jospol ini terus berjalan dan menjangkau lebih banyak penjaga rumah ibadah di seluruh Kaltim.
Di sela tubuhnya yang belum sepenuhnya fit sore itu, ia tetap menyampaikan terima kasih kepada pemerintah daerah yang telah memberinya kesempatan langka tersebut. “Saya berterima kasih kepada Bapak Gubernur dan Bapak Wakil Gubernur. Semoga Allah memudahkan segala urusan kalian,” tuturnya tulus.
Baginya, perhatian terhadap marbut adalah penghormatan besar yang jarang ia temui sebelumnya. “Selama ini kami menjaga masjid, tetapi kali ini kami yang dijaga oleh pemerintah,” katanya lirih.
Ia mengelus dadanya pelan, seolah menegaskan bahwa perjalanan itu bukan sekadar perjalanan spiritual, tetapi juga anugerah yang mengubah cara ia memandang pengabdiannya. “Hidup ini sudah Allah atur. Kita hanya perlu menjalani. Allah pasti memberi jalan,” ujar Junaidi.
Kisahnya menjadi pengingat bahwa dari pekerjaan yang tak disorot sekalipun, Allah dapat membuka pintu rahmat-Nya.Melalui Program Jospol serta Gratispol, pengabdian seorang marbut sederhana dapat mengantarkannya merasakan kemuliaan Tanah Suci. (Adv/DiskominfoKaltim/ns)