KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Mal Lembuswana tak hanya disiapkan sebagai pusat perbelanjaan setelah resmi dikelola PT Kaltim Melati Bhakti Satya (KMBS). Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mulai mengarahkan kawasan tersebut menjadi ruang aktivitas masyarakat dengan menghadirkan konsep baru, mulai dari arena padel, ruang komunitas, hingga tenant-tenant nasional.
Konsep itu menjadi bagian dari masa transisi pengelolaan selama satu tahun yang diberikan kepada KMBS. Selain menjaga operasional pusat perbelanjaan, perusahaan daerah tersebut juga ditugaskan menyusun arah pengembangan sekaligus menjaring investor yang akan melanjutkan revitalisasi kawasan.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kaltim, Sri Wahyuni mengatakan, posisi Mal Lembuswana yang berada di jantung Kota Samarinda menjadi modal besar untuk dihidupkan kembali. Menurutnya, masyarakat harus memiliki alasan lebih banyak untuk datang ke Mal Lembuswana, tidak hanya untuk berbelanja.
“Kita ingin Mal Lembuswana ini tidak hanya menjadi pusat perdagangan dan ekonomi, tetapi juga pusat kegiatan masyarakat,” ujarnya, Jumat (7/8/2026).
Karena itu, aktivitas yang dirancang nantinya tidak hanya berlangsung di dalam gedung. Area luar mal mulai dikaji untuk menghadirkan fasilitas olahraga padel yang kini tengah digemari masyarakat, sementara atrium disiapkan menjadi ruang penyelenggaraan pameran, gathering, hingga berbagai kegiatan komunitas.
Direktur Utama PT Kaltim Melati Bhakti Satya (KMBS), Aji Mohammad Abidharta Wardhana Hakim, mengatakan seluruh gagasan tersebut masih akan melalui kajian sebelum direalisasikan. Menurutnya, setiap konsep harus memiliki dasar perhitungan bisnis sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat.

“Kalau bicara soal padel kan sekarang memang lagi marak di mana-mana. Semua ide itu bagus, tapi pasti lewat kajian. Kami pastikan konsep yang dipilih benar-benar membuat Lembuswana kembali hidup,” ujarnya.
Di saat bersamaan, pemerintah juga mulai membuka peluang masuknya tenant-tenant baru. Sejumlah merek nasional telah melakukan komunikasi awal dan melihat Lembuswana sebagai lokasi yang masih potensial untuk dikembangkan.
Namun, bagi KMBS, pekerjaan terbesar saat ini justru bukan mencari investor. Tantangan utama adalah mempertahankan tenant lama sekaligus meyakinkan tenant baru agar bersedia bergabung selama masa transisi.
“Yang paling susah bukan mencari investor, tapi menggaet tenant baru. Mereka menghitung investasi jangka panjang, sementara kami saat ini mendapat penugasan satu tahun,” kata Abidharta.
Menurutnya, pihaknya telah mempelajari kondisi bangunan selama beberapa bulan terakhir. Selain memetakan berbagai kekurangan fasilitas, KMBS juga berdiskusi dengan tenant yang telah puluhan tahun menjadi bagian dari Mal Lembuswana.
Seluruh tenant lama kini telah menerima penawaran skema sewa dan service charge baru. Respons mereka akan menjadi dasar penyusunan langkah pengelolaan dalam beberapa bulan ke depan.
“Fokus kami sekarang mempertahankan tenant existing. Kami sudah menyampaikan skema sewanya dan tinggal menunggu respons mereka,” ujarnya.
KMBS juga memastikan tenant lama tidak akan ditinggalkan apabila revitalisasi benar-benar dilakukan bersama investor baru. Mereka justru akan diprioritaskan kembali menempati ruang usaha setelah pembangunan selesai.
“Mereka tetap menjadi prioritas ketika nanti mal ini dibangun kembali. Itu yang kami sampaikan kepada tenant existing,” tegasnya.
Selain mempertahankan tenant lama, komunikasi juga telah dilakukan dengan sejumlah calon tenant baru. Salah satunya jaringan bioskop Cinepolis yang disebut telah menunjukkan ketertarikan untuk hadir di Mal Lembuswana.
Meski demikian, menurut Abidharta, sejumlah calon tenant masih mempertimbangkan jangka waktu pengelolaan karena harus menghitung nilai investasi yang akan dikeluarkan.
“Cinepolis sudah melakukan pendekatan dengan kami. Mereka melihat potensinya, tetapi tetap ada hitung-hitungan bisnis yang harus dicari jalan keluarnya,” katanya.
Selama masa transisi tersebut, KMBS akan menjalankan tiga agenda utama secara bersamaan, yakni mempertahankan tenant lama, menggaet tenant baru, dan mencari investor yang akan melanjutkan pengembangan kawasan.
“Kami berharap ketika investor baru masuk nanti, tenant yang sudah lama bersama Lembuswana tetap menjadi prioritas. Yang paling penting sekarang adalah menghidupkan kembali Mal Lembuswana,” tandasnya. (mell)