KALTIMVOICE.ID, SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memperkuat sektor peternakan melalui pengadaan bibit sapi yang dilakukan setiap tahun. Dalam kebijakan terbaru, pemerintah memutuskan memprioritaskan jenis sapi Bali sebagai bibit utama karena dinilai paling sesuai dengan kondisi geografis Kutim yang berbukit, lembab, dan memiliki variasi manajemen pakan di tingkat peternak.
Kepala DTPHP Kutim, Dyah Ratnaningrum, menjelaskan, keputusan memilih sapi Bali didasarkan pada pertimbangan adaptasi biologis dan ketahanan hidup. Dibandingkan sapi besar seperti limosin atau simental, sapi Bali lebih stabil dalam kondisi pakan terbatas dan lahan terbuka. “Sapi Bali itu tangguh. Untuk kondisi Kutim yang sebagian besar masih berupa pedesaan dan ladang terbuka, sapi jenis ini paling cocok,” ujarnya, Kamis (13/11/2025).
Dyah mengatakan pengalaman sebelumnya menunjukkan, sapi besar tidak selalu cocok untuk peternak lokal. Sapi besar membutuhkan pakan berkualitas tinggi, kandang intensif, dan pengawasan ketat agar produktif. Pada sistem semi-intensif yang banyak diterapkan peternak Kutim, sapi besar sering mengalami stres hingga produktivitas menurun. “Sapi besar bagus untuk penggemukan di kandang intensif. Tapi untuk peternak kita yang rata-rata masih menggunakan sistem semi-intensif, sapi Bali lebih aman,” jelasnya.
Pengadaan sapi dilakukan menggunakan APBD dan diberikan kepada kelompok tani yang memenuhi syarat administratif melalui SIM-Luhtan. Keberadaan bibit tersebut diharapkan memulihkan populasi sapi lokal yang sempat turun akibat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) beberapa waktu lalu.
Dyah menyebut, pengadaan bibit adalah investasi jangka panjang, bukan sekadar memenuhi kebutuhan saat ini. “Kalau satu ekor sapi betina produktif kita berikan kepada kelompok tani, dalam beberapa tahun bisa melahirkan beberapa pedet. Inilah efek penggandanya,” katanya.
Pemerintah berharap peternak dapat terus meningkatkan manajemen pakan dan kesehatan ternak agar pengadaan bibit memberikan hasil optimal. “Bibit bagus harus didukung pemeliharaan yang baik. Kalau itu terpenuhi, populasi sapi Kutim bisa kembali meningkat,” tutupnya. (adv/diskominfokutim/yud)