merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

PUPR Kaltim Gandeng UGM Uji Beban Jembatan Mahulu Setelah Ditabrak Tongkang Tiga Kali

img 20260204 wa0017
Uji Beban di Jembatan Mahulu, Rabu (4/2/2026). (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA–Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Perumahan Rakyat (PUPR-PERA) Provinsi Kalimantan Timur melakukan pengujian beban terhadap jembatan Mahulu. Pengujian dilakukan menggunakan metode Non-Destructive Test (NDT) dan uji dinamis pada Rabu (4/2/2026) sekitar pukul 10.00 WITA, melibatkan tim independen dari Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk memastikan keamanan dan kelayakan struktur jembatan.

Kepala Bidang Bina Marga PUPR Kalimantan Timur menjelaskan, uji ulang dilakukan menyusul kejadian ketiga tabrakan tongkang yang kembali mengenai fender dan pilar jembatan di titik P9 dan P10 pada 25 Januari lalu.

“Kami melakukan kembali uji dinamis dan uji NDT ini karena kejadian ketiga tertabraknya kembali fender dan pilar kami di P9 dan P10,” ujarnya.

Ia menegaskan, meskipun hasil uji sebelumnya menunjukkan hasil yang baik, pemerintah daerah tidak ingin berspekulasi terkait keselamatan publik. “Hasil yang pertama memang menunjukkan jembatan kita aman. Tetapi dengan adanya tabrakan ketiga, kami mengambil langkah kehati-hatian. Kita belum bisa memastikan sebelum diuji kembali,” katanya.

PUPR Kaltim juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas dampak aktivitas pengujian, sekaligus meminta dukungan dari seluruh pihak agar proses berjalan lancar. “Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Namun ini demi menjaga keamanan dan keselamatan jembatan sebagai aset kita bersama,” tuturnya.

Tenaga Ahli Struktur UGM, Christopher Triyoso, menjelaskan bahwa uji dinamis bertujuan membaca perubahan karakter getaran struktur akibat insiden tabrakan. Ia menyebutkan, perubahan frekuensi getaran dapat menjadi indikator adanya perubahan kekakuan struktur jembatan.

“Uji ini menggunakan truk berukuran sedang untuk memicu getaran, bukan membebani jembatan. Dari frekuensi getaran itu kami menilai apakah terjadi perubahan kekakuan struktur,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyebut pengujian difokuskan pada satu bentang jembatan yang berkaitan langsung dengan pilar yang terdampak tabrakan. Terkait hasil sementara, Christopher menyampaikan bahwa saat ini data masih dalam tahap pengolahan. “Untuk hasilnya masih menunggu. Biasanya sekitar satu minggu diperlukan untuk memproses dan menganalisis data,” pungkasnya. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *