merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Polemik Obrolan WAG “Mulutmu yang Besar” Berlanjut, Reza Laporkan Syahariah Mas’ud ke Badan Kehormatan

whatsapp image 2026 05 25 at 17.47.03

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Polemik panas di internal DPRD Kalimantan Timur yang dipicu obrolan bernada menyinggung di grup aplikasi WhatsApp (WAG) resmi anggota dewan belum juga mereda. Setelah sempat memancing ketegangan terbuka dalam rapat paripurna, anggota DPRD Kaltim dari Fraksi Gerindra, Akhmed Reza Fachlevi, akhirnya resmi menempuh jalur Badan Kehormatan (BK) DPRD Kaltim.

Laporan itu dilayangkan menyusul pernyataan anggota Fraksi Golkar, Syahariah Mas’ud yang sebelumnya dibacakan langsung oleh Reza dalam forum paripurna dan memicu suasana sidang memanas. Kala itu, Reza mengutip isi pesan yang diduga dikirim Syahariah di grup internal DPRD Kaltim.

Mulutmu yang besar kenapa sembunyi dalam demo, apa maumu lah,” ucap Reza menirukan isi pesan tersebut dalam rapat paripurna 4 Mei lalu.

Pernyataan itu sontak membuat suasana ruang sidang berubah tegang. Adu argumen antaranggota dewan tak terhindarkan hingga pimpinan sidang akhirnya memilih menghentikan pembahasan demi menjaga situasi tetap kondusif.

Kini, polemik tersebut resmi bergeser ke ranah etik kelembagaan DPRD. Reza mengatakan laporan ke BK sudah ia serahkan dan kini tinggal menunggu proses lanjutan dari Badan Kehormatan. “Laporan sudah saya serahkan ke BK. Tinggal bagaimana teman-teman di Badan Kehormatan menjalankan proses sesuai mekanisme yang ada di DPRD,” ujarnya saat ditemui di Kantor DPRD Kaltim, Senin (25/5/2026).

Meski memilih membawa persoalan itu ke jalur resmi, Reza menegaskan dirinya tidak ingin polemik tersebut berkembang menjadi konflik politik antarpartai, terlebih menyeret hubungan Gerindra dan Golkar. Persoalan tersebut murni berkaitan dengan etika komunikasi personal di lingkungan DPRD.

“Jangan juga disangkutpautkan dengan politisasi antara Gerindra dan partai lain. Ini sebenarnya persoalan pribadi terkait bagaimana kita menjaga adab dan etika,” katanya.

Menurut Reza, dinamika politik seharusnya tidak menghilangkan batas sopan santun antaranggota legislatif, apalagi komunikasi dilakukan di ruang internal lembaga. Politisi Gerindra itu mengaku sejak kecil dididik dalam lingkungan keluarga dan adat yang menjunjung tinggi etika dalam berbicara maupun bersikap.

“Kami diajarkan dari keluarga, dari pedatuan dan guru-guru kami soal adab dan etika. Jadi saya berharap semuanya bisa disikapi dengan kepala dingin,” ucapnya.

Di tengah polemik yang terus menjadi perhatian publik, Reza juga mengungkapkan telah ada komunikasi awal dari Ketua BK DPRD Kaltim terkait rencana mediasi kedua pihak. Namun, hingga kini jadwal pemanggilan resmi masih menunggu keputusan Badan Kehormatan.

“Kemarin Ketua BK sudah menghubungi. Katanya nanti akan ada pemanggilan untuk mediasi. Kita lihat saja nanti prosesnya seperti apa,” katanya.

Meski sempat memanas di ruang paripurna, Reza mengaku tetap berharap persoalan tersebut bisa diselesaikan secara baik tanpa memperkeruh hubungan kerja antaranggota DPRD Kaltim. “Kita ini bekerja dalam satu lembaga. Jadi ke depan saya berharap semua bisa kembali berpikir jernih dan sama-sama menjaga etika dalam berpolitik maupun berteman.” pungkasnya. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *