merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Pariwisata Belum Digarap Maksimal, Samarinda Dinilai Kehilangan Peluang Dongkrak PAD

whatsapp image 2026 07 10 at 14.30.30
Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata dinilai masih menguap begitu saja. Di tengah kebutuhan memperkuat fiskal daerah, Kota Samarinda justru belum memiliki arah pengembangan wisata yang mampu menarik arus kunjungan secara konsisten.

Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, berpandangan sektor pariwisata semestinya tidak lagi diposisikan sebagai pelengkap pembangunan.

Menurutnya, industri wisata dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru apabila dikelola secara serius dan berkelanjutan.

Ia menilai setiap wisatawan yang datang tidak hanya membelanjakan uang di lokasi wisata, tetapi juga menggerakkan berbagai sektor lain, mulai dari hotel, rumah makan, transportasi, hingga pelaku UMKM. Rantai ekonomi inilah yang pada akhirnya akan berkontribusi terhadap peningkatan PAD.

“Pariwisata itu bukan hanya soal tempat rekreasi. Di balik itu ada perputaran ekonomi yang sangat besar kalau dikelola dengan baik,” ujarnya.

Iswandi menilai hingga kini Samarinda belum memiliki destinasi yang benar-benar mampu menjadi magnet kunjungan. Akibatnya, potensi ekonomi yang seharusnya lahir dari sektor wisata belum tergarap optimal.

Karena itu, ia mendorong pemerintah kota mulai menyusun arah pengembangan wisata secara lebih terukur, tidak hanya memperbaiki lokasi yang sudah ada, tetapi juga menghadirkan destinasi baru yang memiliki daya tarik kuat.

Salah satu kawasan yang dinilai layak dikembangkan berada di sekitar Teras Samarinda Tahap II, tepatnya bekas pelabuhan bongkar muat.

Lokasi tersebut dinilai berpotensi disulap menjadi kawasan wisata terpadu yang memadukan ruang publik, pusat kuliner, hingga sentra ekonomi kreatif. Bahkan, ia mengusulkan pembangunan bianglala berukuran besar sebagai ikon baru tepian Sungai Mahakam.

“Kalau belum bisa menggunakan anggaran pemerintah, kenapa tidak menggandeng investor. Yang penting ada kemauan menghadirkan destinasi baru yang bisa menjadi kebanggaan masyarakat,” katanya.

Selain menghadirkan wisata modern, Iswandi mengingatkan aset budaya seperti Kampung Tenun, Desa Budaya Pampang hingga bangunan-bangunan bersejarah juga harus dipertahankan. Menurutnya, identitas lokal justru menjadi nilai jual yang tidak dimiliki daerah lain.

“Kalau heritage kita hilang, identitas kota juga ikut hilang. Padahal banyak daerah maju justru mengandalkan bangunan bersejarah sebagai magnet wisata,” pungkasnya. (mell/Adv39/dprdsamarinda)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *