merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Operasional Insinerator Samarinda Belum Optimal, Skema Kerja dan Fasilitas Masih Dibenahi

img 20260414 wa0004
Petugas insinerator melakukan pemilahan sampah. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Uji coba insinerator di Jalan Wanyi, Kecamatan Samarinda Utara, masih menghadapi sejumlah penyesuaian di lapangan. Selain persoalan sampah yang masih bercampur dari Tempat Penampungan Sementara (TPS), aspek operasional hingga kesejahteraan pekerja juga masih dalam tahap pembenahan.

Kepala tim insinerator Jalan Wanyi, Utah (25), menjelaskan bahwa saat ini seluruh aktivitas masih berstatus masa pelatihan. Para pekerja difokuskan untuk memahami alur kerja, mulai dari pemilahan sampah, pengeringan, hingga proses pembakaran di dalam tungku.

“Ini masih tahap training, jadi kami belajar dari awal, mulai dari pemilahan sampah kering, lalu dimasukkan ke dalam tungku untuk dibakar,” ujarnya.

Dalam praktiknya, aktivitas dimulai sejak pukul 08.00 Wita dengan persiapan mesin, lalu pembakaran dimulai sekitar pukul 08.30 hingga pukul 13.00–14.00 Wita. Setelah itu, proses dilanjutkan dengan pendinginan hingga sore hari. “Mesin tidak bisa ditinggal sebelum benar-benar dingin, karena ada risiko api muncul lagi dari dalam,” jelasnya.

Selama masa uji coba ini, suhu pembakaran masih berada di kisaran 500 hingga 700 derajat Celsius. Kendati demikian, untuk sampah basah dibutuhkan suhu lebih tinggi agar pembakaran lebih optimal.

Dalam masa pelatihan ini, para pekerja menerima upah sebesar Rp2,5 juta per bulan. Nominal tersebut merupakan kesepakatan awal saat proses rekrutmen dan bersifat sementara selama fase training berlangsung. “Kalau gaji itu memang untuk masa training dulu. Nanti ke depannya tentu akan ada penyesuaian,” katanya.

Selain gaji pokok, pekerja juga mendapatkan tambahan berupa uang gizi sekitar Rp300 ribu per bulan. Pada momen tertentu seperti hari raya, pekerja juga menerima tunjangan hari raya (THR) sebesar Rp2 juta, serta fasilitas jaminan sosial melalui BPJS.

Sementara itu, untuk fasilitas penunjang seperti alat pelindung diri (APD), saat ini masih belum sepenuhnya merata. Namun, pemenuhan fasilitas tersebut ditargetkan dapat dilengkapi secara bertahap pada bulan Mei mendatang.

Di tengah keterbatasan fasilitas yang masih berproses tersebut, para pekerja mengaku tetap menjalankan tugas sesuai ketentuan yang disampaikan sejak awal perekrutan meskipun mereka berharap ke depan kesejahteraan mereka bisa terus ditingkatkan.

“Kalau berharap untuk gaji lagi ya semua orang pasti berharap, tapi dari awal rekrutmen memang sudah disampaikan nominalnya dan kami sudah bersedia,” tutupnya. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *