merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Menjaga Warisan Tingkilan Kutai, Orkestra Tepian Mahakam Regenerasi hingga Lima Generasi

img 20260110 wa0039
Orkestra Tepian Mahakam bersama Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Ririn Sari Dewi (yud/kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Kesenian tingkilan sebagai orkestra tradisional khas Kutai terus dijaga keberlangsungannya oleh Orkestra Tepian Mahakam. Salah seorang penerusnya, Muhammad Irwansyah, menegaskan, tingkilan bukan sekadar tradisi lisan, melainkan sebuah bentuk kesenian orkestra tradisional yang memiliki struktur musik, sejarah panjang, serta identitas kuat masyarakat Kutai.

“Tingkilan asli dari Tenggarong, tapi kesenian kami tingkilan orkestra tradisional,” ujarnya, Sabtu (10/1/26).

Ia menjelaskan, Orkestra Tepian Mahakam merupakan kelanjutan dari perjalanan panjang keluarga yang telah mengabdikan diri pada seni tingkilan sejak puluhan tahun silam. Sejumlah lagu legendaris seperti Erau Tenggarong, Kota Raja, hingga Merawai merupakan karya ciptaan almarhum ayahnya, Ahmad Sofyan bin Herman, yang diciptakan sejak era 1990-an.

“Erau Tenggarong itu ciptaan orang tua kami. Setelah beliau meninggal, kami mewarisi dan melanjutkan kegiatan kesenian ini,” katanya.

Irwansyah menyebutkan, beberapa lagu tersebut kini kembali dikenal luas masyarakat, bahkan viral di media sosial. Lagu Merawai, misalnya, telah dikenal hingga berbagai daerah di Kalimantan Timur dan banyak dibawakan oleh pelajar tingkat SMP.

Menurutnya, keikutsertaan Orkestra Tepian Mahakam dalam berbagai kegiatan bukan semata-mata mengejar prestasi lomba, melainkan sebagai bentuk kontribusi mengenalkan dan mengedukasi masyarakat tentang kesenian daerah.

“Kami bukan mencari menang. Kami ingin masyarakat tahu tentang tingkilan daerah kita, Kutai. Samarinda juga Kutai, jadi ini kesenian kita bersama,” ujarnya.

Saat ini Orkestra Tepian Mahakam memiliki sekitar 14 anggota, yang sebagian besar merupakan generasi muda, mulai dari pelajar SD hingga SMA. Irwansyah sengaja melibatkan anak-anak dalam orkestra sebagai bagian dari edukasi budaya sekaligus pembinaan karakter.

“Kami ingin anak-anak ini menjauhi gadget berlebihan, game, narkoba, dan balap liar. Alhamdulillah, selama saya membina, mereka tidak pernah lepas dari tingkilan,” jelasnya.

Orkestra Tepian Mahakam sendiri berdiri sekitar tiga tahun terakhir, namun merupakan kelanjutan dari kelompok seni sebelumnya, seperti Tepian Pandan yang aktif sejak tahun 2000, serta Orkestra Tingkilan Muara Kaman yang telah ada sejak era 1980-an. Bahkan, menurut Irwansyah, garis regenerasi tingkilan dalam keluarganya telah berlangsung hingga lima generasi, sejak era Kai Salim pada tahun 1940-an.

Ke depan, Irwansyah berharap pemerintah daerah, baik Kota Samarinda maupun Kabupaten Kutai Kartanegara, dapat terus melibatkan Orkestra Tepian Mahakam dalam berbagai kegiatan resmi. “Harapan kami sederhana, setiap ada acara pemerintah kami bisa diundang untuk mengisi dan memperkenalkan tingkilan kepada tamu-tamu dari luar,” pungkasnya.

Melalui regenerasi dan konsistensi berkarya, Orkestra Tepian Mahakam berupaya memastikan kesenian tingkilan tetap hidup dan relevan di tengah arus modernisasi, sekaligus menjadi kebanggaan budaya Kalimantan Timur. (yud)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *