merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Masih Gunakan Truk Sampah dengan Bak Keropos, DLH Samarinda: Kekurangan Armada

img 20260409 wa0013
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Video sebuah truk pengangkut sampah yang tampak keropos di bagian belakang sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu dan menuai sorotan warga. Kondisi itu memunculkan pertanyaan soal kelayakan armada milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda dalam menjalankan layanan kebersihan kota.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar, menjelaskan bahwa sebagian armada yang digunakan saat ini memang berusia cukup lama, bahkan masih produksi tahun 2013.

Keterbatasan armada membuat sejumlah kendaraan tua yang seharusnya sudah tidak lagi beroperasi, masih harus tetap digunakan demi menjaga pelayanan pengangkutan sampah tetap berjalan. “Memang ada beberapa truk yang sudah kurang layak, tapi masih kita gunakan karena keterbatasan,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).

Saat ini, DLH Samarinda memiliki sekitar 73 unit kendaraan pengangkut sampah yang harus melayani 83 titik tempat penampungan sementara (TPS). Adapun jumlah sopir mencapai 89 orang sehingga terdapat kendaraan yang digunakan secara bergantian oleh dua pengemudi.

Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan pelayanan yang cukup tinggi di mana jumlah armada belum sepenuhnya mampu mengimbangi kebutuhan di lapangan. Bahkan, sekitar 16 unit kendaraan harus digunakan secara dobel agar seluruh wilayah tetap terlayani.

“Artinya memang masih ada kekurangan armada, sementara pelayanan ke masyarakat harus tetap berjalan,” jelasnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, DLH sebenarnya telah melakukan penambahan armada secara bertahap. Pada 2025 misalnya, terdapat tambahan 10 unit truk, sementara pada 2024 sebanyak 8 unit dan 2023 mencapai 15 unit. Namun, sempat terjadinya kekosongan pengadaan pada tahun-tahun sebelumnya membuat proses regenerasi armada tidak berjalan optimal.

Persoalan tidak berhenti pada usia kendaraan. Biaya perawatan armada tua juga menjadi tantangan tersendiri. Dalam beberapa kasus, biaya perbaikan bisa mencapai puluhan juta rupiah. Namun, itu tidak bertahan lama. “Kadang sudah diperbaiki, nanti rusak lagi di bagian lain karena Itu risiko truk yang sudah tua,” ungkapnya.

Terkait kondisi penutup bak truk yang berlubang-lubang seperti yang viral di media sosial, DLH memastikan ada perbaikan. Biasanya, bagian yang rusak akan ditambal atau dilas untuk mencegah ceceran sampah di jalan.

Di tengah keterbatasan tersebut, DLH juga menerapkan strategi operasional dengan menyesuaikan kondisi armada. Truk yang sudah tua tidak lagi digunakan untuk rute berat atau jarak jauh, melainkan dialihkan ke jalur yang lebih dekat guna mengurangi risiko kerusakan.

“Truk yang sudah tua biasanya kita dekatkan jarak operasionalnya dengan TPA supaya tidak terlalu berat bebannya,” jelasnya.

Rencana penambahan armada baru di tahun ini, DLH mengakui masih terkendala efisiensi anggaran. Meski demikian, pihaknya tetap mendorong agar pengadaan kendaraan dapat terus dilakukan secara bertahap setiap tahun. “Yang penting pengadaan itu jangan sampai terputus, supaya truk lama bisa kita pensiunkan.” pungkas Taufiq. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *