KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Memiliki banyak kios ternyata tak menjamin dagangan lebih mudah laku. Setidaknya itu yang dirasakan Darsiah (60), pedagang pakaian Pasar Pagi Samarinda yang mengelola 12 kios di tiga lantai berbeda.
Dari belasan kios yang dimilikinya, Darsiah mengaku bisa melihat langsung bagaimana lokasi masih menjadi faktor penting yang menentukan ramainya pembeli. Beberapa lapak masih mendapat kunjungan pelanggan, sementara sebagian lainnya nyaris tak tersentuh.
“Kalau yang paling sepi itu di lantai enam. Letaknya paling pojok sekali. Kadang seminggu cuma dua atau tiga kali dapat pelaris, sering juga enggak dapat sama sekali,” ujarnya.
Pedagang yang telah berjualan sejak 1986 itu menilai kondisi tersebut bukan semata-mata dipengaruhi bangunan baru Pasar Pagi. Menurutnya, arus pembeli memang belum merata ke seluruh area pasar.
Lapak yang berada di jalur strategis relatif masih hidup dibanding kios yang berada di ujung koridor atau area yang jarang dilalui pengunjung. Kondisi itu membuat perputaran pembeli di sejumlah titik pasar terasa berbeda.
Meski demikian, Darsiah memilih melihat persoalan itu secara lebih luas. Ia menilai lesunya aktivitas jual beli tidak hanya terjadi di Pasar Pagi, tetapi juga dirasakan hampir seluruh pasar tradisional di Samarinda.
“Ini juga bukan Pasar Pagi saja yang menurun. Semua pasar sekarang memang lagi sepi. Daya beli memang lagi menurun,” katanya.
Darsiah bukan pedagang baru di Pasar Pagi. Ia telah bertahan sejak 1986 dan melewati berbagai fase perkembangan pasar tersebut. Saat revitalisasi dilakukan, ia sempat menempati lokasi relokasi di kawasan Segiri sebelum akhirnya kembali ke Pasar Pagi.
Ia merupakan salah satu pedagang yang masuk dalam tahap I penempatan kios Pasar Pagi. Melalui mekanisme pembagian lapak berbasis aplikasi yang diterapkan pemerintah, Darsiah memperoleh kios di lantai 4, 5, dan 6 sebelum akhirnya mulai berjualan di gedung baru pada Januari lalu.
Di tengah berbagai dinamika pascarevitalisasi Pasar Pagi, Darsiah berharap seluruh area pasar nantinya bisa berkembang lebih merata sehingga tidak ada lagi lapak yang tertinggal hanya karena faktor lokasi.
“Kalau tempat tentu lebih enak yang sekarang. Lebih nyaman. Mudah-mudahan nanti bisa ramai semua,” pungkasnya. (mell)