KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Wali Kota Samarinda, Andi Harun meminta masyarakat tidak panik menyikapi informasi intrusi air laut ke Sungai Mahakam yang disebut mulai mencapai kawasan Jembatan Mahakam.
Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda kini memperketat pemantauan kualitas air baku dengan pemeriksaan kadar klorida setiap satu jam.
“Teman-teman tidak usah khawatir, karena tiap satu jam, bukan lagi per hari, tiap satu jam Sungai Mahakam itu kita lab uji,” kata Andi Harun saat dikonfirmasi di Ruang Mangkupalas, Balai Kota Samarinda, Rabu (9/9/2026).
Pemeriksaan juga dilakukan terhadap Sungai Karang Mumus. Jika kadar klorida melewati 250 parts per million (PPM), intake air baku akan dihentikan untuk mencegah air dengan kadar klorida tinggi masuk ke sistem pengolahan.
Penghentian intake tidak selalu berlangsung selama 24 jam. Kadar klorida dapat naik ketika air pasang dan kembali turun saat air surut. Ketika kadarnya kembali sesuai standar, intake dapat dioperasikan lagi.
“Kalau ada kenaikan PPM sampai melampaui 250, kenaikan klorida kita sampai melewati batas 250 PPM, itu pasti intake kita stop,” ujar Andi Harun.
Kondisi tersebut mulai berdampak pada operasional sejumlah instalasi pengolahan air (IPA) Perumda Tirta Kencana. Berdasarkan informasi Perumda per Kamis, (10/9/2026), sepuluh IPA mengurangi jam operasional.
IPA yang terdampak meliputi Bantuas, Palaran, Pulau Atas, Kalhol, Sungai Kapih, Selili, Samarinda Seberang, Tirta Kencana, Cendana, dan Gunung Lipan. Operasional akan kembali normal setelah kadar klorida air kembali sesuai standar.
“Kalau dilihat dari histori, rasanya belum ada intake yang kita off-kan selama 24 jam. Kecuali intake tertentu di daerah Palaran, terutama di daerah Bantuas,” katanya.
Untuk menjaga kebutuhan warga, Perumda Tirta Kencana menyiapkan sejumlah titik pengambilan air. Terminal mandiri disiapkan melalui sumur bor warga, sedangkan terminal umum tersedia di masjid, musala, tempat ibadah, kantor kelurahan, dan lokasi lainnya.
Terminal IPA juga disiapkan di IPA Perumda Tirta Kencana. Permintaan air tangki melalui terminal umum dilakukan lewat RT atau lurah setempat dan dipusatkan di Satgas.
Pelanggan yang aliran airnya masih mengalir diimbau segera menampung air dan menghemat penggunaannya. Langkah ini disiapkan untuk mengantisipasi gangguan distribusi apabila pengoperasian intake harus dihentikan.
“Kalau ternyata ada intake kita yang stop maka skenario berikutnya akan jalan, tangki akan bergerak. Memang pasti akan terganggu, karena tidak normal,” pungkas Andi Harun.