KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Keberadaan 10 unit insinerator yang telah dibeli Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda kembali menjadi sorotan DPRD Samarinda di tengah rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Andriansyah, meminta pemerintah memastikan seluruh fasilitas pengolahan sampah yang telah diadakan tetap memiliki fungsi dan tidak berakhir menjadi aset yang kurang termanfaatkan.
Menurutnya, DPRD sejak awal telah mengingatkan agar pembangunan insinerator dilakukan secara bertahap. Langkah itu dinilai penting untuk mengukur efektivitas teknologi sekaligus mengidentifikasi kendala operasional sebelum diperluas ke berbagai titik.
“Karena prinsip kerjanya hampir sama, dulu kami sempat menyarankan dibangun satu dulu untuk melihat kendala dan efektivitasnya. Tapi saat itu memang pengadaan 10 unit sudah direncanakan oleh pemerintah,” ujarnya, Kamis (11/6/2026).
Ia menjelaskan, insinerator merupakan program yang lebih dulu dirancang sebelum muncul wacana pembangunan PLTSa. Karena itu, keberadaan fasilitas tersebut harus tetap menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah kota ke depan.
Andriansyah mengaku khawatir apabila pembangunan PLTSa tidak dibarengi dengan perencanaan yang matang, keberadaan insinerator justru kehilangan fungsi optimalnya.
“Sekarang tantangannya bagaimana mengatur supaya semua bisa termanfaatkan. Kita sudah mengeluarkan biaya untuk insinerator, sementara pembangunan PLTSa juga mulai berjalan,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan DPRD tidak mempersoalkan pembangunan PLTSa. Justru, menurutnya, proyek tersebut dapat menjadi peluang bagi Samarinda untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah karena didukung sumber pendanaan dari luar daerah.
“Kalau memang Samarinda mendapat kesempatan membangun PLTSa dengan dukungan pendanaan dari luar, tentu itu peluang yang baik. Jangan sampai justru kita menolak kesempatan tersebut,” tegasnya.
Namun ia mengingatkan, teknologi bukan satu-satunya jawaban atas persoalan sampah yang dihadapi Samarinda. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah tetap ditentukan oleh perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah dari sumbernya.
“Program di hulunya juga harus jalan. Pemilahan sampah di tingkat RT itu yang paling penting. Kalau masyarakat masih mencampur semua jenis sampah, maka persoalan tidak akan pernah selesai hanya dengan membangun alat,” ujarnya.
Andriansyah menilai keberadaan insinerator maupun PLTSa hanya akan efektif apabila dibarengi penguatan sistem pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga hingga lingkungan.
“Teknologi penting, tetapi perubahan perilaku masyarakat jauh lebih penting. Kalau hulunya tidak dibenahi, sebanyak apa pun fasilitas yang dibangun tidak akan menyelesaikan masalah sampah secara tuntas.” pungkasnya. (mell/ADV3/dprdsamarinda)