KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda memperkuat festival budaya lewat payung hukum daerah dinilai belum cukup tanpa dukungan anggaran yang memadai. Pasalnya, anggaran kebudayaan di Kota Tepian saat ini disebut hanya tersisa sekitar Rp1 miliar lebih.
Wakil Ketua DPRD Samarinda, Celni Pita Sari menilai kondisi tersebut menjadi tantangan serius jika Samarinda ingin menjadikan budaya dan pariwisata sebagai wajah baru kota di masa mendatang.
“Ke depan kita tidak bisa terus bergantung pada sektor tambang. Apalagi 2026 sudah dicanangkan Samarinda Bebas Tambang. Mau tidak mau kita harus mulai mengembangkan industri, jasa, termasuk sektor budaya dan pariwisata,” ujarnya di Samarinda, Sabtu (16/5/2026).
Menurut Celni, festival budaya dapat menjadi ruang promosi yang efektif untuk memperkenalkan identitas Samarinda kepada masyarakat luar. Namun, pengembangan sektor tersebut membutuhkan dukungan anggaran yang tidak sedikit.
Ia membandingkan dengan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) yang dinilai berhasil membangun geliat pariwisata melalui dukungan anggaran besar untuk event dan pengembangan budaya.
“Di Kukar anggaran pariwisatanya bisa sampai Rp20 miliar. Itu yang membuat mereka mampu menarik orang datang. Sementara kita, setelah hearing kemarin, justru baru mengetahui kalau anggaran kebudayaan di Samarinda sangat minim,” katanya.
Politisi NasDem itu mengungkapkan, saat ini anggaran bidang kebudayaan hanya berkisar Rp1 miliar lebih dan sebagian besar digunakan untuk kegiatan dasar seperti sosialisasi. Oleh karena itu, DPRD bersama bidang kebudayaan mulai menyusun langkah kolaboratif guna menggali potensi budaya lokal yang bisa dikembangkan menjadi agenda unggulan daerah.
“Kami sedang mencoba meramu apa yang bisa dijual dari Samarinda. Festival budaya ini penting karena menjadi pintu pengenalan budaya daerah kepada masyarakat luar,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menilai penguatan festival budaya perlu dilakukan secara serius dan berkelanjutan agar Samarinda memiliki daya tarik wisata yang kuat di tengah persaingan antar daerah.
“Mudah-mudahan ke depan ada penguatan anggaran, supaya program budaya tidak hanya sekadar seremonial, tapi benar-benar bisa menjadi kekuatan baru bagi Samarinda,” pungkasnya. (mell)