KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Angkutan umum baru di Samarinda ditargetkan hadir pada 2027 dengan tarif mulai Rp2.500 sekali perjalanan. Pemerintah Kota Samarinda juga menyiapkan layanan trayek pengumpan atau feeder untuk menjangkau kawasan permukiman dan menghubungkannya dengan jalur bus utama.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Samarinda, Hotmarulitua Manalu, mengatakan besaran tarif nantinya ditetapkan melalui keputusan wali kota. Namun, Dishub mendorong tarif paling murah berada di angka Rp2.500 dengan sistem pembayaran terintegrasi.
“Kita tetapkan yang paling murah Rp2.500. Kami juga dorong di APBD untuk angkutan feedernya yang bisa mengakses ke perumahan-perumahan seperti jalan-jalan perumahan Bengkuring, Jalan Jakarta, dan juga di daerah kampus,” kata Manalu belum lama ini.
Feeder tersebut disiapkan untuk melayani kawasan yang tidak langsung berada di jalur utama. Penumpang nantinya dapat melanjutkan perjalanan menggunakan bus utama atau bus medium tanpa kembali membayar ketika berganti armada.
“Jadi, walaupun dia naik feeder seperti JakLingko, itu dikenakan tarif terintegrasi. Dia bayar satu kali bayar, tapi bisa nyambung ke bus yang lebih besar atau bus medium, tidak bayar lagi,” ujarnya.
Menurut Manalu, integrasi tarif tersebut memang diarahkan agar biaya perjalanan tetap murah bagi masyarakat.
“Jadi, tarifnya terintegrasikan kenapa? Supaya dibuat murah. Sekali lagi murah,” tegasnya.
Angkutan umum tersebut akan menggunakan skema Buy The Service (BTS) dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. Pemerintah pusat telah memberikan lampu hijau untuk dukungan melalui APBN 2027, dengan stimulus pembiayaan selama tiga tahun sebelum selanjutnya menjadi tanggung jawab Pemkot Samarinda.
Konsep BTS yang disiapkan juga berbeda dengan angkutan kota konvensional. Bus tidak akan beroperasi dengan pola menunggu penumpang, tetapi mengutamakan ketepatan waktu dan jarak kedatangan antarbus atau headway.
“Angkutan umum itu bukan model angkutan umum yang konvensional lamanya seperti yang ada saat ini. Dia tidak berbasis nunggu penumpang, tetapi dia menjaga pelayanannya,” jelas Manalu.
Layanan di dalam bus juga akan dilengkapi sejumlah fasilitas, seperti pendingin udara dan CCTV. Masyarakat nantinya dapat memantau posisi bus melalui aplikasi, termasuk perkiraan waktu kedatangan serta ketersediaan tempat duduk atau ruang berdiri.
Untuk pembayaran, Dishub menyiapkan sistem nontunai menggunakan Tap On Bus. Penumpang masuk melalui pintu depan, kemudian keluar melalui pintu tengah.
Dalam master plan, layanan tersebut mencakup tujuh trayek utama dan enam trayek feeder. Koridor utama menghubungkan Terminal Pasar Pagi dengan Terminal Lempake, Samarinda Seberang, Sungai Kunjang, Sempaja Selatan hingga Bandara APT Pranoto, sementara jaringan feeder disiapkan untuk menjangkau sejumlah kawasan permukiman dan pusat aktivitas sebelum terhubung dengan koridor utama.
Teras Samarinda Tahap II juga disiapkan sebagai salah satu titik pemberangkatan karena telah memiliki shelter. Manalu menyebut sejumlah shelter yang ada akan menyesuaikan dengan trayek yang nantinya ditetapkan sebagai prioritas.
Selain tarif, Manalu mengatakan kualitas pelayanan menjadi bagian dari konsep angkutan umum baru tersebut. Ia menyebut sejumlah aspek pelayanan akan diatur, mulai dari ketepatan waktu hingga kondisi di dalam bus.
“Bagaimana pelayanan itu tepat waktu, headway antarbus juga ada, kemudian pelayanan di dalam bus juga dijaga, suhu ruangan dijaga, kemudian sopir juga dengan berpakaian yang rapi,” pungkas Manalu. (mell)