KALTIMVOICE.ID, PENAJAM – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menegaskan arah pembangunan desa yang lebih terstruktur, terukur, dan berorientasi pada pemanfaatan teknologi serta penguatan ekonomi lokal. Hal tersebut disampaikan Bupati PPU, H. Mudyat Noor S.Hut, dalam kegiatan penyusunan strategi dan program prioritas pembangunan desa yang digelar di Aula Lantai III Kantor Bupati PPU, Kamis (4/12/2025).
Dalam kesempatan itu, Bupati memaparkan empat pilar utama pembangunan desa yang akan menjadi fondasi arah kebijakan pemerintah daerah dalam lima tahun ke depan. Keempat pilar ini disebutnya sangat krusial bagi PPU, terutama karena kabupaten ini menjadi daerah penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN).
- Sinergi dan Efektivitas Pendanaan Desa
Mudyat menekankan bahwa PPU memiliki keunggulan dalam sisi pendanaan desa. Dengan total hanya 30 desa, nominal Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD) per desa tercatat cukup besar. Hal ini, menurutnya, merupakan peluang sekaligus tanggung jawab besar bagi pemerintah desa.
“Ini adalah keuntungan sekaligus ujian tanggung jawab. Dana yang lebih besar harus menghasilkan dampak yang lebih besar pula. Kami akan pastikan penggunaan dana desa benar-benar tersinkronisasi dengan program prioritas daerah dan dikelola secara transparan serta akuntabel,” tegasnya.
Ia memastikan bahwa pemerintah daerah akan memberikan insentif khusus bagi desa yang memiliki kinerja, inovasi, dan tata kelola terbaik. Pendekatan ini diharapkan mampu mendorong persaingan sehat antar desa serta menghasilkan program-program yang lebih efektif.
- Digitalisasi Layanan Publik dan Ekonomi Desa
Mendukung misi kedua RPJMD PPU 2025–2029, yaitu percepatan transformasi digital, Bupati menegaskan bahwa desa-desa di PPU harus menjadi motor penggerak digitalisasi.
“Kami akan dorong digitalisasi layanan publik desa, perluasan akses internet, dan peningkatan kapasitas digital masyarakat. UMKM desa harus ‘naik kelas’ dengan go-digital dan membangun branding yang kuat,” ujar Mudyat, yang juga mantan anggota DPRD Kaltim.
Menurutnya, digitalisasi bukan hanya tentang sistem pemerintahan desa yang terhubung secara daring, tetapi juga mencakup percepatan ekonomi lokal melalui pemasaran digital, penguatan literasi teknologi, serta kolaborasi dengan berbagai pihak termasuk institusi di kawasan IKN.
- Penguatan BUMDes dan Koperasi Merah Putih untuk Ketahanan Pangan
Dalam bidang ekonomi berbasis komunitas, Bupati menegaskan pentingnya memaksimalkan peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) serta Koperasi Merah Putih yang kini sudah terbentuk di 54 kelurahan dan desa di PPU. Dua lembaga ini diharapkan menjadi pusat penggerak ketahanan pangan berbasis desa.
“Melalui sinergi BUMDes dan Koperasi, kita wujudkan program pangan bergizi seperti Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan Satuan Pendidikan Penyelenggara Gizi (SPPG). Targetnya, anak-anak sekolah, balita, dan ibu hamil di PPU mendapatkan akses pangan yang sehat dan bergizi dari produksi lokal sendiri,” jelas Mudyat.
Ia menambahkan bahwa keberadaan dua lembaga ekonomi desa tersebut akan memperkuat rantai produksi hingga distribusi pangan lokal, sehingga nilai tambah dari komoditas pertanian dapat kembali ke masyarakat desa.
- Penyediaan Komoditas Pangan Berbasis Kluster
Pemerintah daerah juga akan memperkuat ketahanan pangan dengan memetakan komoditas unggulan di tiap wilayah, mulai dari padi, jagung, pisang, cabai, hingga buah-buahan. Setiap desa diarahkan untuk mengembangkan komoditas berdasarkan potensi lahan dan pasar.
“Kami telah mengeluarkan berbagai himbauan dan dukungan kebijakan untuk gerakan menanam di pekarangan dan lahan pertanian. Desa-desa penghasil pangan akan menjadi ‘hub’ atau pusat logistik pangan lokal,” tutur Bupati.
Strategi berbasis kluster ini diyakini akan mempermudah rantai pasok, meningkatkan produksi, dan memperkuat cadangan pangan daerah. Dalam statement penutupnya, Bupati Mudyat Noor menyampaikan keyakinannya bahwa desa di PPU akan mampu menjadi model pembangunan yang berkelanjutan di wilayah penyangga IKN.
“Visi kami jelas: Desa Mandiri, Sehat, dan Produktif. Dengan semangat gotong royong, pengelolaan dana yang baik, pemanfaatan teknologi, dan penguatan kelembagaan desa, saya yakin PPU akan menjadi contoh pembangunan desa yang berdampak langsung pada kesejahteraan warga,” tandasnya.
Dengan fokus pada empat pilar strategis tersebut, PPU menatap masa depan sebagai kabupaten yang tidak hanya menjadi penyangga IKN, tetapi juga pusat pertumbuhan baru yang mengedepankan desa sebagai poros pembangunan. (Adv/diskominfoppu/Asist I/udin.zacrez)