KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Ribuan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) telah terbentuk di seluruh Kalimantan Timur. Namun, hingga akhir Juli 2026, baru 82 koperasi atau sekitar delapan persen dari total 1.037 koperasi yang benar-benar menjalankan kegiatan usaha.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop dan UKM) Kaltim, Heni Purwaningsih, mengatakan kesiapan sarana sebenarnya mulai terbentuk. Sebanyak 234 koperasi telah memiliki gerai yang siap digunakan sebagai pusat kegiatan usaha, meski sebagian besar masih menunggu operasional berjalan.
“Yang sudah siap operasional ada 234, artinya gerainya sudah tersedia. Yang sudah menjalankan usahanya ada 82 koperasi,” ujarnya, Jum’at (7/7/2026).
Meski jumlah koperasi aktif masih terbatas, geliat usahanya mulai terlihat. Data Disperindagkop dan UKM Kaltim mencatat koperasi yang telah beroperasi berhasil menghimpun 9.431 anggota, membukukan aset Rp11,4 miliar, omzet usaha Rp7,31 miliar, dan laba bersih sekitar Rp322 juta.
Mayoritas koperasi yang telah berjalan masih bertumpu pada perdagangan kebutuhan pokok. Sebanyak 55 koperasi mengelola gerai sembako, 25 koperasi menjalankan usaha lain, sedangkan masing-masing satu koperasi bergerak di bidang apotek, klinik, dan simpan pinjam. Hingga kini belum ada Koperasi Merah Putih yang membuka usaha pergudangan.
Menurut Heni, kondisi tersebut masih wajar mengingat sebagian besar koperasi baru memasuki tahap awal operasional. Namun, pemerintah berharap koperasi tidak hanya berkembang sebagai tempat penjualan sembako, melainkan mampu memanfaatkan potensi ekonomi yang dimiliki masing-masing desa maupun kelurahan.

“Kita harapkan koperasi yang sudah terbentuk segera melakukan rapat dan mendiskusikan potensi-potensi yang ada di masing-masing desa maupun kelurahan untuk dikembangkan menjadi usaha produktif,” katanya.
Ia menilai setiap daerah memiliki peluang usaha yang berbeda. Karena itu, pengembangan koperasi ke depan diarahkan tidak hanya pada perdagangan, tetapi juga sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, distribusi logistik, cold storage, jasa, hingga unit simpan pinjam yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah masing-masing.
Untuk mempercepat pengembangan usaha tersebut, Pemprov Kaltim juga menjembatani kerja sama koperasi dengan sejumlah mitra strategis. Di antaranya Perum Bulog untuk distribusi beras SPHP dan Minyakita, Pertamina sebagai penyalur LPG tiga kilogram, serta PT Pupuk Indonesia guna mendukung penyaluran pupuk kepada petani anggota koperasi.
Dari sisi kesiapan operasional, Kutai Kartanegara menjadi daerah dengan jumlah gerai siap pakai terbanyak, yakni 79 gerai. Disusul Paser sebanyak 39 gerai, Berau 26 gerai, Kutai Timur 24 gerai, Penajam Paser Utara 23 gerai, Samarinda 19 gerai, Kutai Barat 14 gerai, Bontang enam gerai, dan Balikpapan empat gerai. Sementara Mahakam Ulu masih menjadi satu-satunya daerah yang belum memiliki gerai Koperasi Merah Putih siap operasional.
Selain kesiapan usaha, pemerintah juga masih menunggu penempatan manajer koperasi oleh pemerintah pusat. Heni menyebut pembekalan calon manajer telah selesai dilaksanakan, namun surat keputusan penugasan masih menjadi kewenangan Kementerian Koperasi.
“Kita masih menunggu SK penempatan dari kementerian. Pembekalannya sudah selesai, tetapi penetapan manajer menjadi kewenangan pemerintah pusat,” tutup Heni. (mell)