KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Rencana pembongkaran jalan untuk proyek sodetan di KM 2 Jalan Loa Janan Ulu, Kutai Kartanegara, memantik keresahan warga. Masyarakat khawatir sodetan yang akan mengalirkan air dari wilayah Samarinda itu justru membuat permukiman di bantaran Sungai Loa Janan Ulu terendam saat hujan deras.
Kekhawatiran tersebut mendorong warga Desa Loa Janan Ulu turun melakukan aksi damai di lokasi proyek, Rabu (23/9/2026). Mereka meminta rencana pembukaan jalan tidak dilakukan sebelum ada penanganan di Sungai Loa Janan Ulu.
Warga RT 8, Sutaryo, mengatakan keresahan warga sebenarnya sudah berlangsung sejak pembahasan proyek tersebut. Namun, rencana pembongkaran jalan yang disebut akan dilakukan Kamis (24/9/2026) kembali memicu keberatan warga.
Menurut Sutaryo, sebelumnya telah ada kesepakatan antara Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara, dan masyarakat bantaran sungai bahwa jalan tidak dibuka sebelum ada kegiatan penanganan di Sungai Loa Janan Ulu.
“Jalan itu disepakati oleh pemerintah Kota Samarinda dan Kukar, warga masyarakat bantaran yang ada di situ tidak akan dibuka sebelum ada kegiatan di Sungai Loa Janan,” kata Sutaryo.
Ia menyebut persoalan tersebut juga telah beberapa kali dibahas melalui rapat dengar pendapat (RDP) pada September 2025. Dalam beberapa kali pertemuan, pembongkaran jalan belum dilakukan sehingga warga menganggap kesepakatan tersebut masih menjadi pegangan.
Kini, ketika rencana pembongkaran kembali muncul, warga mempertanyakan langkah tersebut. Sutaryo menegaskan masyarakat Loa Janan Ulu tidak bermaksud mencampuri upaya Samarinda menangani persoalan banjir di wilayahnya.
“Tidak ada tuntutan lain, tidak ada tuntutan yang macam-macam. Intinya karena itu haknya Samarinda. Kami masyarakat itu hanya terdampak,” ujarnya.
Menurutnya, warga memahami persoalan banjir yang hendak diatasi melalui proyek sodetan. Namun, mereka khawatir persoalan banjir yang terjadi di Samarinda justru berpindah dan menimbulkan dampak baru bagi masyarakat di wilayah Loa Janan Ulu.
“Kita paham masyarakat Samarinda itu ingin menyelesaikan akar permasalahannya. Akar permasalahannya ini kan banjir juga yang luar biasa. Cuma yang diminta itu jangan bikin masalah baru. Akar masalah baru itu dipindahkan saja ke Sungai Loa Janan Ulu,” katanya.
Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Sutaryo menyebut kawasan tempat mereka tinggal sudah mudah terdampak banjir ketika hujan berlangsung cukup lama. Karena itu, tambahan debit air dari sodetan dinilai dapat memperbesar genangan yang masuk ke permukiman.
“Dampak yang lebih besar nantinya. Kita ini kan di musim penghujan nanti, dua jam hujan sudah banjir. Apalagi kalau sodetan itu dialirkan ke Sungai Loa Janan Ulu, dua jam itu sudah tenggelam, apalagi ditambah, ini kan menambah debit air,” tuturnya.
Dalam pembahasan sebelumnya, DPRD Kukar juga telah menyoroti agar proyek sodetan tidak langsung difungsikan sebelum ada penanganan terhadap Sungai Loa Janan Ulu. Normalisasi sungai menjadi salah satu hal yang diminta untuk memastikan aliran tambahan dari sodetan tidak menimbulkan persoalan baru.
Sementara itu, Anggota Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) Samarinda, Hambali mengatakan pihaknya memperoleh informasi bahwa persoalan tersebut masih akan dibawa Pemkab Kukar ke rapat internal sebelum dilanjutkan dengan surat kepada gubernur.
“Itu masih akan dibawa ke rapat dulu baru bersurat ke gubernur,” ujar Hambali.
Untuk pekerjaan di lapangan, Hambali menyebut pelaksanaannya sementara mengikuti arahan dari pimpinan. Ia juga menegaskan belum ada batas waktu yang diberikan kepada Pemkab Kukar untuk menyelesaikan pembahasan tersebut.
Bagi warga Loa Janan Ulu, yang menjadi persoalan bukan keberadaan proyek untuk menangani banjir Samarinda, melainkan dampaknya ketika aliran tersebut diarahkan ke sungai yang berada di wilayah mereka. Sutaryo meminta kesepakatan yang telah dibahas sebelumnya tidak diabaikan.
“Samarinda tidak mendengar aspirasi kami. Kalau sudah membuka jalan itu berarti tidak menghargai masyarakat Loa Janan Ulu, khususnya yang bantaran sungai ini,” tegasnya. (mell)